Jumat, 06 Agu 2021 15:10 WIB

Soal NIK Warga Dipakai WNA untuk Vaksin, Kemenkes: Tak Ada Unsur Kesengajaan

Achmad Reyhan Dwianto - detikHealth
Petugas kesehatan menyiapkan vaksin COVID-19 yang akan disuntikkan kepada anak usia 12-18 tahun di RSUP Dr Mohammad Hoesin Palembang, Sumatera Selatan, Sabtu (10/7/2021). Dalam rangka Hari Anak Nasional, Dinas Kesehatan kota Palembang bekerja sama dengan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan RSUP Dr Mohammad Hoesin Palembang menggelar vaksinasi massal COVID-19 terhadap anak usia 12-18 tahun dengan target 1.000 orang anak per hari. ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/aww. Vaksinasi COVID-19. (Foto ilustrasi: ANTARA FOTO/NOVA WAHYUDI)
Jakarta -

Beberapa hari kemarin seorang warga Bekasi, Wasit Ridwan, sempat tidak bisa divaksinasi COVID-19 karena nomor induk kependudukan (NIK) telah digunakan warga negara asing (WNA). Meski kasusnya sudah selesai dan dipastikan karena kesalahan input data, tetapi kejadian ini telah menimbulkan banyak pertanyaan publik.

Terkait hal tersebut, Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan Oscar Primadi, mengatakan kejadian ini murni karena adanya kesalahan pelaksanaan di lapangan. Ia menegaskan tidak ada oknum yang terlibat dalam kejadian NIK warga Bekasi bisa digunakan WNA.

"Apa pun yang terjadi di lapangan tentunya ada hal-hal yang memang error yang harus kita perbaiki, termasuk barangkali hal-hal yang berkenaan dengan kesalahan input," kata Oscar dalam konferensi pers, Jumat (6/8/2021).

"Satu digit saja bisa berdampak. Kemungkinan salah input ini tentunya bisa daripada inputter yang ada di faskes, maupun dari yang bersangkutan sendiri yang memanfaatkan aplikasi," lanjutnya.

Oscar mengimbau kepada masyarakat yang mengalami masalah dalam mengakses layanan vaksinasi bisa segera hubungi call center 119. Ia menjamin pihaknya akan membantu mengatasi keluhan-keluhan yang terjadi di masyarakat tentang vaksinasi COVID-19.

"Sekali lagi semuanya tidak ada latar belakang yang disengajakan, saya yakin ini adalah persoalan-persoalan yang memang berasal dari kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi di lapangan, termasuk tadi salah input," jelasnya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kemendagri Prof Dr Zudan Arif Fakrulloh Sh, MH, mengatakan siap membantu setiap permasalahan yang terjadi di masyarakat dalam mengakses layanan vaksinasi COVID-19.

"Kita akan melakukan pembetulan NIK yang salah. Nanti kita akan back up full support untuk tracking data. Nanti misalnya NIK-nya siapa yang merasa sudah dipakai, kemudian nanti di Pak Oscar sudah ada datanya," ucap Prof Zudan dalam kesempatan yang sama.

"Dia dipakai oleh faskes di mana, ketik di mana, nanti kita bacakan. Tentu saja ini memerlukan upaya dan ikhtiar agar data kita bisa lebih rapi lagi," tambahnya.

Untuk mengantisipasi hal ini tidak terjadi lagi, Prof Zudan meminta kepada masyarakat untuk tidak menggunakan data orang lain dalam mengakses layanan vaksinasi COVID-19. Ia juga mengingatkan kepada petugas untuk lebih teliti lagi dalam mengolah data masyarakat.

"Karena setelah nanti kita lakukan kerja sama ini, kalau menggunakan data orang lain, data orang lain itu akan terverifikasi bukan sebagai dirinya. Bukan sebagai dirinya yang memasukkan itu, karena sudah terindikasi dengan data dukcapil," ujarnya.

"Kemudian petugas di faskes juga begitu harus mulai lebih teliti lagi," tuturnya.

Belum vaksin COVID-19? Bisa daftar di detik.com/vaksinctcorp.



Simak Video "Komnas KIPI: Efek Vaksin Covid-19 Lebih Banyak Dialami Anak Muda"
[Gambas:Video 20detik]
(ryh/naf)