Kamis, 12 Agu 2021 05:04 WIB

Ada Anomali Lonjakan Angka Kematian COVID-19, Kemenkes Jelaskan Pemicunya

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Area pemakaman jenazah Covid-19 di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Pedurenan, Kota Bekasi, Kamis (29/07/2021, ramai dikunjungi peziarah. Foto: Rengga Sancaya
Jakarta -

Angka kematian COVID-19 untuk kedua kalinya tembus angka 2 ribu kasus pada Selasa (10/8/2021). Kementerian Kesehatan memperingatkan, lonjakan serupa masih mungkin terjadi setidaknya dua pekan ke depan.

Tenaga Ahli Kementerian Kesehatan dr Panji Fortuna Hadisoemarto, MPH menjelaskan, analisis data National All Record (NAR) menunjukkan bahwa pelaporan data kematian dari daerah tidak bersifat realtime.

Artinya, data yang masuk merupakan akumulasi dari bulan-bulan sebelumnya. Sebagai contoh, data Selasa (10/8/2021) saat angka kematian menyentuh 2.048 kasus, 10,7 persen di antaranya berasal dari kasus pasien positif yagn sudah tercatat di NAR lebih dari 21 hari namun baru terkonfirmasi dan dilaporkan bahwa pasien meninggal.

"Kota Bekasi, contohnya, laporan kemarin (10/8) dari 397 angka kematian yang dilaporkan, 94 persen diantaranya bukan merupakan angka kematian pada hari tersebut, melainkan rapelan angka kematian dari bulan Juli sebanyak 57 persen dan bulan Juni dan sebelumnya sebanyak 37 persen," jelas dr Panji dalam rilis Kemenkes, Kamis (12/8/2021).

"Lalu 6 persen sisanya merupakan rekapitulasi kematian di minggu pertama bulan Agustus," lanjutnya.

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kemenkes drg Widyawati, MKM menegaskan, tingginya kasus yang terjadi beberapa pekan terakhir membuat daerah belum sempat memasukkan atau memperbaharui data ke NAR.

"Lonjakan-lonjakan anomali angka kematian seperti ini akan tetap kita lihat setidaknya selama dua minggu ke depan," kata drg Widyawati.



Simak Video "Persiapan yang Harus Dilakukan untuk Menuju Endemi Covid-19"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)