Senin, 16 Agu 2021 05:59 WIB

Round Up

Jerinx Pilih Sinovac, Siapa Saja Sih yang Harus Pilih-pilih Vaksin?

Rita Puspita Rachmawati - detikHealth
Musisi Jerinx akhirnya disuntik vaksin COVID-19 di Polda Metro Jaya. Ia diketahui disuntik vaksin Sinovac. Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Setelah memutuskan bersedia divaksin COVID-19, musisi Jerinx atau I Gede Ari Astina menjatuhkan pilihan pada vaksin Sinovac. Jenis vaksin tersebut dinilai paling aman untuk dirinya.

"Awalnya saya masih ragu karena saya baca-baca, orang dengan punya riwayat hepatitis itu sebaiknya harus konsultasi dulu," ujar Jerinx kepada wartawan di Dokkes Polda Metro Jaya, Minggu (15/8/2021).

Keputusan itu diambilnya setelah berkonsultasi dengan seseorang yang disebutnya sebagai virolog dr Indro. Tidak dijelaskan apa pertimbangan pastinya, sementara dr Indro yang dimaksud juga tidak merespons permintaan wawancara. Dalam catatan detikcom, sosok dr Indro beberapa kali membuat pernyataan kontroversial tentang COVID-19.

Soal pilih-pilih vaksin COVID-19, pada kondisi tertentu memang diperbolehkan dan memang harus dilakukan. Umumnya ketika memiliki kontraindikasi atau rentan mengalami efek samping pada vaksin tertentu, sehingga harus menggunakan jenis vaksin yang lain.

Namun pada kondisi normal, sangat tidak dianjurkan untuk pilih-pilih. Bagi yang tidak punya komorbid atau kerentanan tertent, vaksin terbaik adalah vaksin yang tersedia dan paling mudah diakses.

Tujuan vaksinasi bukan cuma untuk perlindungan individual, melainkan juga komunitas melalui herd immunity. Kekebalan komunitas dicapai ketika vaksinasi sudah mencakup sebanyak mungkin populasi.

Sedangkan pilih-pilih vaksin seperti Jerinx bisa dilakukan antara lain pada kondisi berikut.

1. Ibu hamil

Perhimpunan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) merekomendasikan vaksin COVID-19 dengan platform inactivated dan mRNA untuk ibu hamil. Termasuk dalam platform inactivated adalah Sinovac dan Sinopharm, sedangkan mRNA mencakup Pfizer dan Moderna.

Salah satu pertimbangan vaksin inactivated jadi pilihan bagi ibu hamil adalah tidak memiliki kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) yang berat.

"Dua hal ini lah yang menjadikan dasar bagi kami untuk merekomendasikan ibu hamil untuk divaksin Corona termasuk dengan jenis vaksin Sinovac," kata Sekjen POGI, dr Budi Wiweko, SpOG(K)-FER, MPH.

2. Anak remaja 12-17 tahun

Komite Penasihat Ahli Imunisasi Nasional atau Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) menetapkan bahwa anak usia 12-17 tahun di Indonesia bisa divaksinasi menggunakan vaksin Sinovac. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI juga telah menerbitkan emergency use authorization (EUA) bagi vaksin Sinovac untuk usia 12-17 tahun.

Di luar negeri, Badan Obat Eropa (EMA) telah memberikan izin penggunaan vaksin Moderna untuk anak usia 12 tahun ke atas karena efek samping yang ditimbulkan bersifat ringan.

Namun, Plt Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan RI, Maxi Rein Rondonowu, menegaskan sejauh ini untuk usia anak 12-17 tahun di Indonesia belum bisa menggunakan Moderna.

"Sepanjang masih ada ketersediaan vaksinnya tidak membeda-bedakan masyarakat... Kecuali umur 12-17 tahun hanya boleh Sinovac," kata dr Maxi saat menjawab pertanyaan siapa saja yang akan mendapat vaksin Moderna.

Pengidap komorbid dan lansia juga termasuk yang pilih-pilih soal vaksin.

KLIK DI SINI UNTUK KE HALAMAN SELANJUTNYA



Simak Video "Cara Kerja Vaksin COVID-19 di Tubuh Anak-anak dan Orang Dewasa"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)