Senin, 16 Agu 2021 07:18 WIB

Seperti Jerinx, Orang-orang Ini Dulunya Tak Percaya COVID-19 kini Mau Divaksin

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Musisi Jerinx akhirnya disuntik vaksin COVID-19 di Polda Metro Jaya. Ia diketahui disuntik vaksin Sinovac. Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Musisi Jerinx sempat menganggap COVID-19 hanyalah konspirasi. Namun kini ia mengakui Corona nyata dan bersedia divaksin.

Informasi ini ia sampaikan langsung melalui akun Instagram pribadinya yang menyebut bahwa ia akan disuntik vaksin Sinovac. Bahkan, penabuh drum SID itu menyarankan pengikutnya yang masih ragu untuk segera mendapatkan vaksin.

Perubahan sikap ini oleh pakar dianggap wajar terjadi. Tak hanya Jerinx, Psikologi Universitas Indonesia (UI), Naufal Umam, menyebut hal ini bisa terjadi pada siapapun jika telah mengalami langsung atau orang terdekatnya terinfeksi COVID-19.

"Jangankan Jerinx, semua antivaksin yang ekstrem-ekstrem di Amerika juga ketika mereka terpapar dan terkapar di rumah sakit, mereka banyak yang mengatakan bahwa vaksin itu penting," ucapnya.

Banyak kisah yang menunjukkan penyesalan mereka yang tidak percaya COVID-19 mengalami dampak yang cukup parah. Mereka pun akhirnya bersedia di vaksinasi.

1. Dulu olok-olok vaksin, kini bersedia divaksin COVID-19

Pada 2019 lalu, Heather Simpson kerap mengolok-olok penyakit yang membutuhkan vaksin untuk mencegahnya, seperti campak. Ia juga mengatakan penyakit tersebut hal yang paling tidak menakutkan dalam hidupnya.

Ia juga menjadi influencer anti-vaksin dan rutin memposting berisi penyangkalan terhadap vaksin jenis apapun dan tidak akan membawa anaknya untuk diimunisasi.

Namun pandangannya berubah saat pandemi COVID-19 terjadi. Dikutip dari Texax Monthlu, pada pertengahan April 2021, Simpson akhirnya memutuskan untuk mendapatkan vaksin pertamanya di Baylor University Medical Center. Ia mendapatkan dosis pertama vaksin Pfizer-BioNTech.

Alasannya belum diketahui secara pasti namun ia akhirnya menyarakankan orang lain agar segera divaksin sehingga terhindar dari infeksi COVID-19.

2. Percaya COVID-19 dan mau divaksin setelah sekeluarga terinfeksi

Jonathan Weltsch mengira COVID-19 hanya separah flu biasa. Percaya vaksin belum menerima pengujian yang memadai, Weltsch secara aktif meyakinkan orang untuk tidak divaksinasi dengan mengklaim "itu akan lebih membawa dampak buruk daripada baik."

Kemudian, ia jatuh sakit. Awalnya ia mengira COVID-19 yang ia derita hanya berlangsung sebentar dan tak akan menular. Namun hari demi hari, kondisinya makin memburuk sehingga harus memakai bantuan pernapasan dan keluarganya pun ikut terinfeksi.

"... Varian COVID-19 baru ini bukan lelucon. Itu menakutkan karena tidak bisa bernapas. Lindungi diri Anda dari virus mematikan ini," katanya dikutip dari Twincities.

Weltsch dan istrinya kemudian mengalami kejadian horor saat ia dan anak-anaknya mulai menunjukkan gejala dan dites positif untuk Corona. Jonathan bahkan harus dirawat di ICU.

Kini setelah melewati masa-masa buruk itu, mereka sekeluarga akhirnya percaya Corona dan memutuskan akan segera divaksinasi setelah pulih.

3. Pro-vaksin karena anak

Seorang ibu dari enam anak menghabiskan banyak waktunya untuk mendorong orang lain untuk menjadi antivaksin. Alyssa Ruben juga kerap menyebut vaksin hanya membawa dampak buruk.

Hal itu sebelum pandemi COVID-19 terjadi. Banyak orang di komunitasnya yang terinfeksi Corona namun tetap mengejek penyakit tersebut membuatnya sadar akan perilakunya selama ini yang salah.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia akhirnya mencari tahu tentang vaksin. Ia mengaku salah dengan keputusannya menjadi anti vaksin dan kini membawa seluruh anaknya divaksinasi, termasuk COVID-19.



Simak Video "Alasan WHO Akhirnya Luluh soal Vaksin Covid-19 Dosis Ketiga"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/up)