Sabtu, 21 Agu 2021 14:19 WIB

Kemenkes Diminta Transparan soal Penetapan Harga Setiap Komponen Tes PCR

Achmad Reyhan Dwianto - detikHealth
Jakarta -

Indonesia Corruption Watch (ICW) menanggapi penetapan harga eceran tertinggi (HET) terkait tes PCR oleh Kementerian Kesehatan. Diketahui, HET tes PCR di Jawa-Bali saat ini adalah Rp 495 ribu, sedangkan untuk luar Jawa-Bali Rp 525 ribu.

Menurut peneliti ICW, Wana Alamsyah, penetapan harga tersebut harus dibarengi dengan detail informasi dari masing-masing harga setiap komponen dalam pemeriksaan PCR. Pasalnya, ia merasa pemerintah kurang transparan dalam menyampaikan informasi terkait penanganan COVID-19, khususnya harga tes PCR.

Berdasarkan data ICW, dari Oktober 2020 sampai 15 Agustus 2021, total ada 25.840.025 spesimen yang diperiksa di sejumlah lab di Indonesia. Dalam rentang waktu tersebut, HET tes PCR masih berada di harga Rp 900 ribu sesuai dengan SE Nomor HK.02.02/1/3713/2020.

"Perhitungan secara kasar, jika kita menghitung atau mengkalkulasi jumlah spesimen yang diperiksa dikalikan dengan pemeriksaan paling tinggi 900.000. Setidaknya ada perputaran uang sebesar Rp 23,2 triliun," kata Wana dalam webinar Lapor COVID-19, Jumat (20/8/2021).

Kemudian saat ini HET tes PCR diturunkan menjadi Rp 495 ribu di Jawa-Bali, dan Rp 525 ribu di luar Jawa-Bali. Menurut Wana, penurunannya mencapai 45 persen dari harga yang ditetapkan pada tahun 2020.

"Artinya, bisa jadi selisih harga ini merupakan sebagian keuntungan yang didapatkan oleh fasilitas kesehatan, atau laboratorium yang menyediakan pemeriksaan PCR," klaim Wana.

"Apabila ini merupakan suatu profit yang didapatkan, ini tentunya sangat besar sekali. Dan rasanya dalam Surat Edaran tersebut pemerintah tidak pernah menyampaikan atau menetapkan berapa sebenarnya harga, atau persentase yang boleh didapat oleh penyedia jasa," lanjutnya.

Selain itu, Wana menilai selama ini pihak Kemenkes selalu mengatakan mahalnya harga tes PCR disebabkan oleh beberapa komponen yang memang harganya cukup tinggi, seperti reagen.

Berikut daftar harga reagen pada tahun 2020, berdasarkan data yang diolah ICW.

April:

  • Intron: Rp 200 ribu
  • Toyobo: Rp 200 ribu
  • Sansure: Rp 345 ribu.

Mei:

  • SD Biosensor: Rp 195 ribu.

Juni:

  • Intron: Rp 180-200 ribu.

Agustus:

  • Kogene: Rp 280 ribu.

Oktober:

  • Intron: Rp 180 ribu.

"Ketika Kemenkes bilang reagen mahal, mahalnya seberapa? Dan apa mereknya, dan kapan pembelian tersebut dilakukan?" kata Wana.

"Jika kita asumsikan bahwa di Oktober itu harga reagennya Rp 180 ribu, rasanya berdasarkan asumsi kami jangan-jangan di tahun 2021, harga reagen ini cenderung menyusut lagi, bukan hanya Rp 180 ribu. Ini yang menjadi tanggung jawab Kemenkes untuk menyampaikan informasinya," jelasnya/

Memang apa saja komponen-komponen yang dihitung oleh Kemenkes dalam penetapan harga tes PCR? Klik halaman selanjutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2