Selasa, 31 Agu 2021 06:02 WIB

Tunda Vaksinasi Anak Jika Alami Kondisi Berikut Ini

Erika Dyah - detikHealth
Anak sedang divaksin Foto: iStockphoto
Jakarta -

Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan mengumumkan anak-anak berusia di atas 12 tahun sudah bisa mendapatkan vaksinasi COVID-19. Hal ini sesuai dengan Surat Edaran nomor HK.02.02/I/1727/2021 tentang Vaksinasi Tahap 3 bagi Masyarakat Rentan, Masyarakat Umum Lainnya, dan Anak Usia 12-17 tahun yang dikeluarkan oleh Kemenkes.

Vaksinasi pada anak berguna untuk memperluas cakupan vaksinasi serta memberi kekebalan pada anak-anak yang dinilai rentan terhadap paparan virus COVID-19. Selain itu, vaksinasi pada anak juga menjadi salah satu langkah mengakselerasi dimulainya pembelajaran tatap muka (PTM).

Kendati demikian, ada beberapa kondisi yang membuat anak harus menunda vaksinasi atau bahkan tidak bisa melakukannya. Dilansir dari laman Indonesiabaik.id, berikut sejumlah kondisi yang mengharuskan Anda menunda vaksinasi pada anak.

  • Suhu di atas 37,5 derajat celcius
    Jika anak mengalami demam atau suhu di atas 37,5, sebaiknya Anda menunda vaksinasi pada mereka hingga anak sembuh.
  • Tekanan darah lebih dari 140/100 mmHg
    "Jika tekanan darah demikian, maka pengukuran diulang kembali 5-10 menit kemudian. Jika masih tinggi, vaksinasi ditunda dan dirujuk," dikutip dari Indonesiabaik.id, Selasa (30/8/2021).
  • Anak mendapat vaksin kurang dari sebulan sebelumnya
    Jika menemui kondisi tersebut, sebaiknya vaksinasi untuk anak ditunda.
  • Anak pernah sakit COVID-19
    Untuk anak-anak penyintas COVID-19, pelaksanaan vaksinasi dianjurkan untuk ditunda hingga 3 bulan setelah sembuh.
  • Dalam keluarga ada kontak dengan pasien COVID-19
    Dalam kondisi tersebut, anak-anak diminta menunda vaksinasi selama dua minggu.
  • Anak demam, batuk pilek atau nyeri menelan atau muntah atau diare dalam 7 hari terakhir

Pada kondisi yang kurang sehat seperti di atas, vaksinasi untuk anak sebaiknya ditunda terlebih dahulu. Anak-anak juga disarankan untuk segera berobat guna mencegah penyakit yang lebih parah.

  • Dalam tujuh hari anak perlu perawatan di RS atau menderita kedaruratan medis
    Jika dalam waktu 7 hari anak mengalami kedaruratan medis, seperti sesak napas, kejang, tidak sadar, berdebar-debar, pendarahan, hipertensi, atau tremor hebat, maka vaksinasi sebaiknya ditunda terlebih dahulu. Serta memfokuskan anak pada pengobatan sebelum melakukan vaksinasi.
  • Anak menderita gangguan imunitas
    Gangguan imunitas pada anak bisa beragam bentuknya. Baik itu hiperimun, seperti autoimun, alergi berat dan defisiensi imun atau defisiensi imun, misalnya gizi buruk, HIV berat, dan keganasan. Jika anak-anak mengalami kondisi tersebut, vaksinasi harus ditunda terlebih dahulu sampai dinyatakan boleh oleh dokter yang merawat.
  • Anak sedang menjalani terapi imunosupresan jangka panjang
    Saat dalam penanganan terapi imunosupresan jangka panjang, (steroid lebih dari 2 minggu, sitotatiska) vaksinasi anak harus ditunda, sampai dinyatakan boleh oleh dokter yang merawat.

Selain sembilan kondisi di atas, ada beberapa kondisi lain yang membutuhkan perhatian sebelum anak-anak mendapat suntikan vaksin COVID-19. Misalnya, jika anak mempunyai riwayat alergi berat, seperti sesak napas, bengkak, urtikaria di seluruh tubuh atau gejala syok anafilaksis (tidak sadar) setelah vaksinasi sebelumnya maka sebaiknya vaksinasi COVID-19 pada anak dilakukan di rumah sakit.

Selain itu, dibutuhkan juga perhatian pada anak-anak yang memiliki riwayat penyakit hemofilia atau kelainan pembekuan darah. Dalam kondisi tersebut, vaksinasi anak dianjurkan dilakukan di rumah sakit.



Simak Video "Vaksin Pfizer Kini Dalam Proses Izin Penggunaan Darurat dari BPOM"
[Gambas:Video 20detik]
(mul/up)