Sabtu, 04 Sep 2021 20:00 WIB

Dugaan Badai Sitokin pada Pasien Isoman yang Nekat Vaksin sampai Masuk IGD

Achmad Reyhan Dwianto - detikHealth
Suasana IGD di RSUD Bendan, Kota Pekalongan, Senin (21/6/2021). Seorang pasien Corona di Poso, Sulawesi Tengah, harus dilarikan ke IGD setelah divaksinasi COVID-19. (Foto ilustrasi: Robby Bernardi/detikcom)
Jakarta -

Ketua Komnas Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) Prof Hingky Hindra Satari Irawan menduga badai sitokin menjadi penyebab pasien Corona di Poso, Sulawesi Tengah, mengalami pemburukan gejala hingga dilarikan ke ruang instalasi gawat darurat (IGD). Ia menegaskan vaksinasi COVID-19 tidak akan membuat pasien menjadi sakit.

Hal ini karena, vaksin COVID-19 tidak dibuat dari virus hidup, melainkan virus yang sudah dimatikan sehingga tidak mungkin menyebabkan sakit.

"Tidak (memperparah sakit), orang itu bukan virus. Dia kan bukan bibit penyakit. Jadi dia tidak memperberat, tidak menyembuhkan, tidak mempengaruhi terhadap perjalanan penyakit orang tersebut," kata Prof Hingky saat dihubungi detikcom, Sabtu (4/9/2021).

Sebelumnya diberitakan bahwa seorang pasien asal Poso, Saparudin (56), yang sedang menjalani isolasi mandiri nekat melakukan vaksinasi COVID-19 demi sertifikat vaksin untuk syarat perjalanan. Dalam waktu 30 menit setelah divaksinasi, ia mengeluh mual dan pusing.

Hingga akhirnya, Saparudin dilarikan ke IGD di RSUD Poso pada malam harinya. Menurut keterangan call center RSUD Poso, Munfail, pasien tidak mengaku bahwa sedang terkena COVID-19.

"Riwayatnya ini memang intinya pasien itu berbohong, ia tidak jujur ke rumah sakit. Jadi, informasinya ini satu minggu sebelum vaksinasi yang bersangkutan sudah dilakukan pemeriksaan rapid antigen dan ternyata hasilnya positif (COVID-19), hanya tidak dilaporkan," kata Munfail kepada detikcom setelah mendapat izin dari Direktur RSUD Poso Jean S Rondonuwu, Sabtu (4/9/2021).

Terkait hal ini, Prof Hingky mengatakan ada kemungkinan pasien sedang terkena badai sitokin sehingga mengalami pemburukan gejala dan bukan vaksin COVID-19 penyebabnya. Hal ini karena, Saparudin sudah dinyatakan positif Corona sejak seminggu lalu sebelum divaksinasi.

"Kan dia positifnya seminggu lalu, minggu pertama itu virusnya berkembang biak. Masuk minggu kedua itu yang badai sitokin itu. Itu adalah perjalanan penyakit alamiah dari penderita yang mengalami infeksi virus COVID satu minggu sebelumnya. (Kalau gejalanya tampak bertambah) kebetulan saja dia divaksinnya bersamaan," jelasnya.

"Minggu kedua keluar badai sitokinnya. Bukan gara-gara vaksinnya, tapi gara-gara virus masuk seminggu sebelum dia divaksin. Vaksin kan nggak bikin penyakit," sambungnya.

Dikutip dari Very Well Health, badai sitokin sendiri merupakan suatu kondisi ketika respons imun bekerja secara berlebihan dalam melawan infeksi, sehingga menyebabkan inflamasi atau peradangan. Apabila tak segera ditangani, kondisi ini dapat menyebabkan kegagalan organ dan kematian.



Simak Video "Apakah Vaksin Covid-19 Dapat Mencegah Badai Sitokin?"
[Gambas:Video 20detik]
(ryh/kna)