Rabu, 08 Sep 2021 16:40 WIB

Penelitian Polyherbal untuk COVID-19 Dimuat di Jurnal Internasional

Angga Laraspati - detikHealth
Woman in laboratory, examining new potions for the scientific research at university. Woman is wearing protective mask and protective gloves (Surgical gloves) while working with beakers, test tubes and other lab equipment. Series of images, taken with Nikon D800 and 50mm or 85 mm professional lens, developed from RAW. Foto: Getty Images/Drazen_
Jakarta -

Para peneliti kembali melanjutkan penelitian terkait manfaat polyherbal yang mengandung ekstrak ikan gabus, temulawak, dan daun kelor. Penelitian lanjutan ini dilakukan dengan mengukur potensi anti inflamasi dalam polyherbal.

Polyherbal yang dimaksud adalah produk Onoiwa MX yang diproduksi oleh PT Natura Nuswantara Nirmala (Nucleus Farma). Penelitian ini dilakukan oleh Guru Besar Bidang Farmakologi Bahan Alam dari Fakultas Farmasi Universitas Pancasila Prof. Dr. apt. Syamsudin, M.Biomed dan praktisi dokter ahli spesialis paru dr. Lusi Nursilawati Syamsi, Sp.P.

Keduanya meneruskan penelitian untuk melihat potensi anti inflamasi dan antioksidan di dalam Onoiwa MX yang dapat berperan sebagai terapi adjuvant (yang membantu) untuk meningkatkan efektivitas pengobatan standar COVID-19.

Hasil penelitian ini sudah terbit di dalam jurnal internasional, Teikyo Medical Journal Volume 44 Issue 4 pada Agustus 2021 dengan kode issn 03875547 merupakan jurnal medis terindeks scopus yang diterbitkan oleh Teikyo University School of Medicine sejak tahun 1990. Jurnal tersebut menerima hasil penelitian medis termasuk kedokteran, farmasi, biokimia, psikologi dan sejenisnya.

Dalam penelitian Prof. Syamsudin dan dr. Lusi menemukan kombinasi pemberian Channa striata, Curcuma xanthorrhiza, dan Moringa oleifera yang ada pada Onoiwa MX dapat melengkapi pengobatan COVID-19 sebagai terapi adjuvant, terutama untuk pasien dengan pneumonia ringan dan sedang.

Menurut Prof Syamsudin penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pemberian kombinasi ekstrak Channa striata, Curcuma xanthoria, dan Moringa Oleifera sebagai terapi adjuvant dalam pengobatan standar COVID-19.

"Manfaat dan kemanjuran untuk meningkatkan nilai protein reaktif C, lama tinggal, dan skor skala sesak yang lebih baik disediakan, dan observasi klinis dilakukan dengan desain studi kohort prospektif," tutur Prof Syamsudin dalam keterangan tertulis, Rabu (8/9/2021).

Satgas COVID-19 Foto: Satgas COVID-19

Sementara itu, dr Lusi menjelaskan subjek penelitian adalah pasien dengan konfirmasi PCR kemungkinan/positif dengan pneumonia COVID-19 sedang setelah memenuhi kriteria inklusi.

"Sebanyak 48 subjek diperoleh dan dibagi menjadi kelompok kontrol dan perlakuan masing-masing 24 pasien. Tiga variabel dianalisis secara bivariat, yaitu LOS, mMRC, dan CRP," kata dr Lusi.

Adapun LOS menurut Huffman (1994) adalah 'the average hospitalization stay of inpatient discharged during the period under consideration'. Sedangkan LOS menurut DepKes RI (2005) adalah rata-rata lama rawat seorang pasien.

Di sisi lain, mMRC menjadi salah satu pengukuran sesak nafas, Modified Medical Research Council (mMRC) merupakan instrumen pengukuran sesak napas berupa kuesioner yang mengandung 5 pertanyaan dengan jawaban yang harus dipilih pada pasien mengalami sesak napas.

Sedangkan CRP adalah protein yang diproduksi oleh organ hati sebagai respon terhadap peradangan di tubuh. Orang sehat umumnya memiliki CRP rendah. Sebaliknya kadar CRP dapat tinggi menjadi pertanda adanya penyakit atau infeksi yang ada di dalam tubuh.

Kadar CRP atau C-reactive protein di dalam darah dapat diperiksa dengan pemeriksaan CRP. Pemeriksaan ini telah banyak digunakan untuk mendiagnosis penyakit yang berhubungan dengan peradangan. Oleh karena itu ketiga aspek tersebut diukur dalam penelitian ini.

Adapun hasil penelitian menunjukkan bahwa laki-laki (62,5%) memiliki karakteristik sampel paling banyak dengan rata-rata usia 50,-54 tahun, disertai gejala batuk (91,7%), demam (77,1%), dan sesak napas (75%). Selanjutnya, penyakit penyerta yang paling umum dari kedua kelompok adalah hipertensi (47,9%).

Kesimpulannya, setiap gejala demam pada kelompok perlakuan memiliki median 3 yang berarti 50% sembuh setelah mengalami gejala demam selama 3 hari. Sedangkan kelompok kontrol memiliki median 4 yang berarti 50% sembuh setelah mengalami gejala demam selama 4 hari.

Sesak napas dan batuk masing-masing memiliki median 4, yang berarti 50% pulih setelah 4 hari gejala. Oleh karena itu, peningkatan demam sesuai dengan nilai CRP, yang meningkatkan limfosit pada kelompok perlakuan.

Prof. Syamsudin menyimpulkan pengaruh terapi adjuvant dengan kombinasi polyherbal tersebut dapat meningkatkan skor mMRC pasien pneumonia pada pasien COVID-19 dengan derajat sedang.

dr Lusi juga menambahkan terapi ajuvan dengan formula poliherbal (Onoiwa Mx) menyebabkan peningkatan skor mMRC pasien dengan pneumonia derajat sedang hingga terlihat dari penurunan skor mMRC.

Sebelumnya kedua peneliti sudah melakukan penelitian observasi uji klinis terhadap pasien COVID-19 dengan kasus sedang telah terbukti dapat menjadi adjuvant therapy dan sudah terpublikasi ilmiah dalam Jurnal Internasional, European Journal of Molecular and Clinical Medicine.

Nucleus Farma pun siap mendukung dan berkontribusi dalam perannya sebagai produsen obat tradisional di dunia kesehatan serta bermanfaat bagi masyarakat Indonesia. Khususnya dalam hal ini sangat mendorong produk unggulannya dilengkapi dengan hasil penelitian dan terpublikasi ilmiah.

Terbukti dengan dua jurnal yang sudah selesai pertama mengenai Observasi Uji Klinis Penggunaan Produk Onoiwa MX sebagai Adjuvan Terapi Pasien COVID-19 kemudian yang terbaru ini terintegrasi menjadi pendukung bahwa Onoiwa MX dapat dijadikan adjuvant pilihan yang potensial baik dalam hal terapi pengobatan pasien COVID-19.



Simak Video "BPOM Akan Beri Izin Darurat Regdanvimab untuk Obat COVID-19"
[Gambas:Video 20detik]
(prf/up)