Sabtu, 11 Sep 2021 10:16 WIB

Dapat Izin BPOM, 9 Vaksin COVID-19 Ini Dipastikan Aman

Jihaan Khoirunnisa - detikHealth
The doctor prepares the syringe with the cure for vaccination. Foto: iStock
Jakarta -

Pemerintah mengajak masyarakat untuk tidak ragu divaksin. Sebab 9 vaksin COVID-19 yang tersedia di Indonesia sudah dipastikan aman karena telah mendapat Persetujuan Penggunaan dalam Kondisi Darurat atau Emergency Use Authorization (EUA) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

"Hadirnya beragam jenis vaksin COVID-19 di Indonesia ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk mengamankan ketersediaan vaksin. Seluruh dunia sangat memerlukan vaksin COVID-19 saat ini, dan Indonesia memerlukan 400 juta lebih dosis vaksin. Oleh karenanya, pemerintah berupaya mendapatkan vaksin dari berbagai produsen," ujar Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G. Plate dalam keterangan tertulis, Sabtu (11/9/2021).

Diketahui pada Selasa (7/9) lalu, BPOM telah memberikan EUA kepada vaksin Johnson & Johnson. Berdasarkan hasil uji terhadap penerima vaksin di atas 18 tahun, vaksin tersebut memiliki efikasi untuk mencegah semua gejala COVID-19 sebesar 67,2 persen, dan efikasi untuk mencegah gejala COVID-19 sedang hingga berat sebesar 66,1 persen.

Di hari yang sama, BPOM juga memberikan EUA untuk vaksin Convidecia yang dikembangkan CanSino Biological Inc. dan Beijing Institute of Biotechnology. Efikasi vaksin ini untuk perlindungan pada semua gejala COVID-19 adalah 65,3 persen, sedangkan efikasi untuk perlindungan terhadap kasus COVID-19 berat adalah 90,1 persen.

Kedua vaksin ini menjadi ke-8 dan ke-9 yang telah mendapatkan EUA dari Badan POM, menyusul 7 vaksin lain yang telah mendapatkan EUA lebih awal, yaitu Sinovac, Vaksin COVID-19 Bio Farma, AstraZeneca, Sinopharm, Moderna, Pfizer, dan Sputnik V.

"Dari sembilan vaksin yang sudah mendapatkan EUA dari Badan POM, enam diantaranya telah digunakan di Indonesia. Kemudian, dalam waktu dekat, vaksin Janssen juga akan tiba di Indonesia," terangnya.

Sementara itu, Pakar Imunisasi, dr. Elizabeth Jane Soepardi, MPH. DSc mendorong pemerintah untuk memperluas cakupan vaksinasi, khususnya di daerah dengan tingkat kasus COVID-19 paling tinggi. Daerah padat penduduk dengan mobilitas masyarakat yang lebih tinggi dinilainya memiliki risiko penyebaran kasus COVID-19 lebih tinggi.

"Dengan cara ini otomatis cakupan imunisasi akan lebih cepat meningkat dibanding vaksin yang ada di distribusi secara merata," ujar Doktor Bidang Penelitian Pelayanan Kesehatan dari Erasmus University, Belanda ini.

Selain itu, dr. Jane juga mengingatkan bahaya varian delta yang jauh lebih cepat menular dan memiliki perjalanan penyakit dua kali lebih cepat dan mematikan. Untuk itu, masyarakat diminta untuk segera divaksinasi agar menghindari risiko kesehatan yang lebih parah akibat infeksi COVID-19 varian Delta.

"Sebanyak 99% kasus positif COVID-19 di Amerika Serikat terjadi pada mereka yang belum diimunisasi, kelompok antivaksin, dan antimasker," tukasnya.

(ncm/ega)