Kamis, 16 Sep 2021 07:00 WIB

Zona Merah COVID-19 RI Cuma Tersisa 1 Wilayah!

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Lonjakan kasus COVID-19 di Tanah Air dinilai sebagai tanda Indonesia kini tengah hadapi gelombang kedua Corona. Akibat hal itu, zona merah pun bertambah. Zona merah COVID-19 tersisa satu wilayah. (Foto: Pradita Utama)
Jakarta -

Kabar baik, zona merah COVID-19 di Indonesia cuma tersisa satu wilayah. Belakangan, penurunan drastis Corona di Indonesia tak hanya terjadi pada angka positivity rate tetapi jumlah kasus aktif hingga keterisian tempat tidur rumah sakit.

Zona merah COVID-19 periode Juli hingga Agustus sempat melonjak menjadi lebih dari 200 wilayah, berkurang banyak menjelang akhir Agustus dengan mencatat 50-an kab/kota berisiko tinggi. Namun, di awal September pekan lalu, jumlahnya menurun drastis.

Zona merah Corona berkurang drastis

Per 5 September 2021, zona merah COVID-19 hanya tercatat 5 wilayah. Tersebar di Sulawesi Tengah, Papua, dan Aceh.

Kini berdasarkan catatan Satgas COVID-19 di 12 September hanya satu wilayah yang masuk zona merah COVID-19 yaitu Aceh, Kota Banda Aceh.

Gelombang ketiga

Meski begitu, juru bicara Satgas COVID-19 Prof Wiku Adisasmito meminta masyarakat tetap waspada dan menjaga protokol kesehatan. Hal ini demi menghindari potensi terjadinya kembali lonjakan kasus seperti di bulan Juli.

"Kita harus waspada dan tetap disiplin protokol kesehatan agar kita tidak menyusul third wave atau lonjakan dalam beberapa bulan ke depan," kata Wiku dalam konferensi pers yang disiarkan BNPB pada Selasa (14/9/2021).

Varian baru Corona

Di tengah menurunnya kasus COVID-19, Indonesia tetap mewaspadai munculnya kasus varian baru seperti varian Mu hingga C.1.2. Bahkan, varian C.1.2 diprediksi bakal 'seganas' varian Delta lantaran memiliki jenis mutasi yang sama dengan variant of concern (VoC) seperti varian Alpha, varian Delta, varian Beta, dan varian Gamma.

"Walaupun pemerintah belum resmi ya menyampaikan temuan kasus varian mu atau C.1.2 di Indonesia, ini masalah waktu saja, tinggal besar kemungkinan sudah masuk," beber pakar epidemiologi Universitas Griffith Dicky Budiman kepada detikcom Rabu (15/9/2021).

"Sulit mencegah masuknya varian tersebut karena pergerakan manusia ini luar biasa, sulit kita mendeteksi, seperti New Zealand, Australia saja melakukan penutupan ketat ya tetap bobol juga," sambungnya.



Simak Video "Kasus Corona Kudus Melejit, Ada Sebaran Mutasi Baru? "
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)