Kamis, 16 Sep 2021 11:31 WIB

Eks Petinggi WHO Jelaskan Seberapa Ampuh Vaksin Sinovac Lawan Delta

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Ratusan tenaga pendidik menjalani vaksinasi COVID-19 hari ini. Vaksinasi itu dilakukan agar sekolah bisa memulai belajar tatap muka pada tahun ajaran baru. Eks petinggi WHO menjelaskan vaksin Sinovac masih ampun lawan varian Delta. (Foto: Agung Pambudhy)
Jakarta -

Banyak negara mewaspadai varian baru Corona seperti varian Mu dan varian C.1.2 termasuk Indonesia. Varian tersebut dikhawatirkan bisa menurunkan efektivitas vaksin COVID-19.

Namun, varian paling berbahaya yang mendominasi di dunia dan Indonesia saat ini adalah varian Delta. Seberapa 'tahan' vaksin COVID-19 melawan varian-varian baru?

Menurut eks Direktur Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Asia Tenggara Prof Tjandra Yoga Aditama, efikasi vaksin memang menurun karena ada mutasi atau varian baru. Tetapi, itu masih bisa digunakan sampai saat ini.

"Pada dasarnya, efikasi vaksin memang turun karena ada mutasi atau varian baru. Tetapi, sejauh ini, walaupun turun masih bisa dipakai untuk menangani varian-varian yang ada sampai saat ini," jelas Prof Tjandra dalam webinar yang dikutip dari ANTARA, Kamis (16/9/2021).

"Terutama mencegah penyakit berat dan kematian," lanjutnya.

Meski begitu, vaksin Corona yang dipakai saat ini juga masih mampu mengatasi varian Delta, salah satunya vaksin Sinovac.

Dalam penjelasannya, Prof Tjandra mengatakan bahwa dua dosis vaksin Sinovac memiliki efikasi 59 persen terhadap varian Delta, 70,2 persen kasus COVID-19 sedang dan 100 persen kasus parah. Data itu diperoleh dari studi di Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) di Guangzhou.

Jika nanti efikasi dari vaksin Corona turun lagi, menurutnya bisa dilakukan modifikasi vaksin, bukan membuat vaksin baru. Sebab, membuat vaksin baru akan memakan waktu yang sangat panjang.

"Kalau nanti turun lagi, maka bisa dilakukan modifikasi. Jadi tidak perlu bikin vaksin baru lagi. Untuk sekarang masih belum (turun),"

"Jangan berpikir nanti kalau turun lagi kita harus memulai lagi, prosesnya menunggu setahun lagi baru ada vaksin. Modifikasi, cukup cepat enam sampai delapan pekan," pungkasnya.



Simak Video "Cara Kerja Vaksin COVID-19 di Tubuh Anak-anak dan Orang Dewasa"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/naf)