Senin, 20 Sep 2021 09:05 WIB

Pesan WHO Soal Efektivitas dan Keamanan Mencampur Dosis Vaksin COVID-19

Firdaus Anwar - detikHealth
Perdana Menteri (PM) Thailand disuntik vaksin AstraZeneca hari ini. Vaksinasi tersebut digelar di tengah kontroversi terkait keamanan vaksin Corona tersebut. Foto: Gareth Fuller/Pool Photo via AP
Jakarta -

Sebagian negara dilaporkan mulai mencampur dosis vaksin COVID-19 dari berbagai produsen dalam program imunisasinya. Ada yang melakukan ini karena alasan kekurangan suplai, ada juga yang melakukannya karena ingin meningkatkan efektivitas.

Apakah hal ini efektif dan aman?

Ahli penyakit infeksi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Dr Katherine O'Brien, mengatakan bahwa saat ini ada 17 jenis vaksin COVID-19 yang banyak digunakan di seluruh dunia. Sebagian besar jenis vaksin tersebut sebetulnya belum memiliki data yang cukup terkait efikasinya bila saling dicampur.

Bukti efikasi yang tersedia saat ini hanya untuk vaksin AstraZeneca dan vaksin berplatform mRNA, seperti Pfizer atau Moderna. Katherine menjelaskan bahwa memang ada bukti pemberian dosis vaksin AstraZeneca, kemudian vaksin Pfizer atau Moderna untuk dosis berikutnya, dapat memberikan respons antibodi yang kuat.

"Yang kita tahu adalah Anda akan mendapat respons lebih baik bila dimulai dengan AstraZeneca kemudian vaksin mRNA. Tapi sebaliknya juga tidak ada masalah," ungkap Katherine seperti dikutip dari kanal Science in 5 WHO, Senin (20/9/2021).

"Selain vaksin itu, kami masih belum memiliki bukti untuk campuran vaksin lain. Studi masih dilanjutkan dan kami menunggu hasil," lanjutnya.

Efek samping yang dihasilkan saat mencampur-campur jenis vaksin dilaporkan hampir sama seperti pada pemberian vaksin COVID-19 umumnya. Reaksi ringan, seperti nyeri dan demam, umum terjadi dan akan sembuh dengan sendirinya.



Simak Video "Alasan WHO Akhirnya Luluh soal Vaksin Covid-19 Dosis Ketiga"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/fds)