Senin, 20 Sep 2021 11:06 WIB

Lonjakan Kasus Disebut Proses Hidup Normal COVID-19, Singapura Siapkan Mental

Vidya Pinandhita - detikHealth
Jakarta -

Lonjakan kasus COVID-19 di Singapura diyakini sebagai proses menuju hidup berdampingan dengan COVID-19. Namun, melihat adanya laporan sejumlah RS mulai kebanjiran pasien COVID-19, seperti apa persiapan Singapura menyambut 'hidup normal' tersebut?

Pejabat kesehatan menyebut terdapat 1.012 kasus baru COVID-19 per Minggu (19/9/2021), dengan 873 pasien di rumah sakit. Sebanyak 118 di antaranya bergejala berat dan membutuhkan dukungan oksigen, dan 21 dalam kondisi kritis dengan unit perawatan intensif.

Menteri Kesehatan Ong Ye Kung menyebut kondisi tersebut sebagai 'ritus peralihan'. Artinya, negara beradaptasi dengan model kehidupan yang baru di tengah kehadiran virus dan variannya.

"Kami berada di jalur transisi ke kehidupan normal baru dengan COVID-19," kata Menkes Ong Ye Kung dalam konferensi pers, Jumat (17/9/2021).

"Ini adalah perjalanan yang tidak pasti dan penuh liku-liku," lanjutnya.

Pendapat lain disampaikan oleh dokter keluarga di Singapura, Dr Ong Eu Jin Roy. Menurutnya, tak bisa dipungkiri bahwa petugas kesehatan mulai kewalahan menghadapi situasi pandemi kini di Singapura. Meski ia menghargai optimisme pemerintah soal COVID-19 bakal jadi endemi, kondisi lonjakan ini harus diberhentikan.

"Kami sudah bertahan, tetapi harus ada titik akhir di mana kami bisa melihat tiang gawang," terang dokter keluarga di Singapura, Dr Ong Eu Jin Roy, dikutip dari Aljazeera, Senin (20/9/2021).

"Ketika pemerintah ingin kami terbuka dan menjadi endemik, saya pikir itu bagus karena kami benar-benar mencapai batas akhir. Anda tidak bisa berada dalam keadaan siaga tinggi di mana adrenalin mengalir setiap hari Anda masuk. Itu tidak bisa terus-menerus berlanjut," lanjutnya.

Bakal 'siap mental'

Di lain sisi, pemerintah Singapura terus mengupayakan layanan kesehatan mental masyarakat yang mungkin terpengaruh oleh COVID-19 seperti stres dan gangguan kecemasan. Pemerintah juga mengupayakan penguncian untuk menjamin kebutuhan pakaian, makanan, dan minuman.

"Stressor yang mempengaruhi semua orang bervariasi, seperti 'Apakah saya akan sakit? Apakah anggota keluarga saya sakit? Apakah saya perlu karantina? Apakah saya memiliki akses ke perawatan?" ujar ahli onkologi terlatih Amerika yang tinggal dan berpraktik di Singapura sejak 2006, Dr Steven Tucker.

"Semua ini merupakan tekanan kesehatan mental yang ditanggapi dengan sangat cepat oleh Singapura dan telah ada upaya untuk mengatasinya," pungkasnya.

(vyp/fds)