Senin, 20 Sep 2021 11:32 WIB

COVID-19 Singapura Ngamuk, Bagaimana Corona di Negara Tetangga RI Lainnya?

Ayunda Septiani - detikHealth
Singapura kembali memperketat pembatasan imbas lonjakan jumlah kasus COVID-19 beberapa hari terakhir. Padahal hampir 3 minggu Singapura membuka roadmap hidup berdampingan dengan COVID-19. Foto: Getty Images/Ore Huiying
Jakarta -

Pandemi COVID-19 masih melanda dunia, tak terkecuali di Asia Tenggara. Meski begitu, tren di beberapa negara ASEAN saat ini menunjukan infeksi yang cukup beragam.

Seperti, Singapura yang awalnya berencana untuk hidup 'damai' dengan COVID-19 kini menghadapi lonjakan kasus. Singapura melaporkan 1.012 kasus baru COVID-19 pada hari Minggu (19/9/2021), dan kasus tersebut tertinggi semenjak puncak wabah di bulan April tahun 2020 lalu.

Dikutip dari laman CNA, Menkes Singapura Ong Ye Kung menjelaskan mulai banyak pasien yang membanjiri rumah sakit (RS). Lansia 80 tahun keatas yang belum divaksinasi disebut paling berisiko karena berkontribusi terhadap angka kematian COVID-19 tertinggi, sampai di atas 15 persen pada periode Mei hingga September 2021.

"Kapasitas ICU kita masih cukup, tapi UGD dan poli umum yang mulai berada di bawah tekanan. RS dan tenaga kesehatan tidak boleh sampai kewalahan," kata Menkes Ong.

"Ini adalah tantangan terbesar Kementerian Kesehatan pada saat ini dan kita sedang berusaha sebaik mungkin," lanjutnya.

Lalu bagaimana COVID-19 di negara tetangga RI lainnya?

1. Malaysia

Malaysia saat ini mengalami tren penurunan kasus COVID-19. Di negara itu, wilayah Lembah Klang, seperti Selangor dan Kuala Lumpur masih memimpin kenaikan kasus. Kedua negara bagian tersebut mencatatkan masing-masing 499 ribu dan 151 ribu angka infeksi sejak pandemi melanda.

Pada Minggu (19/9/2021), Malaysia mencatat 14.954 kasus COVID-19 baru dan 376 di antaranya meninggal.

2. Filipina

Filipina masih belum menunjukkan tren penurunan infeksi COVID-19. Menurut data John Hopkins, secara rata-rata per pekan, negara pimpinan Presiden Rodrigo Duterte itu masih menunjukan angka infeksi di level 20 ribu kasus.

Selain itu, Filipina juga mengalami kekurangan tenaga kesehatan secara drastis akibat banyak yang terinfeksi virus Corona maupun mengundurkan diri.

Departemen kesehatan Filipina melaporkan bahwa Filipina kekurangan perawatan lebih dari 100 ribu orang. Akibatnya, tenaga kesehatan yang masih bisa bekerja harus berjaga selama berjam-jam.

"Mereka lelah dan kelelahan. Pada awal pandemi, kami memiliki hampir 200 perawat. Pada September ini berkurang menjadi 63," kata direktur keperawatan Pusat Medis Lipa Medix, Lourdes Banaga, dikutip dari CNA.

Pada Minggu (19/9/2021), Filipina mencatat 19.271 kasus COVID-19 baru, dan 205 di antaranya meninggal.

3. Brunei

Brunei menunjukan tren yang fluktuatif. Per 17 September, Negara kesultanan itu mencatatkan rata-rata mingguan sebesar 131 kasus.

Tren kenaikan kasus COVID-19 terjadi pada Agustus lalu. Puncaknya terjadi pada 20 Agustus, di mana infeksi harian negara itu mencapai 387 kasus.

Pada Minggu (19/9/2021), Brunei mencatat 90 kasus COVID-19 baru, dan tidak ada laporan kematian.

4. Thailand

Kasus COVID-19 di Thailand saat ini mengalami penurunan tren kasus COVID-19. Per 17 September lalu, negara tersebut mencatatkan rata-rata mingguan sebesar 13 ribu kasus.

Angka ini turun dari beberapa pekan sebelumnya yang mencatatkan hingga rata-rata 21 ribu kasus per pekannya. Dengan tren infeksi ini, jumlah total infeksi Covid-19 di negara itu telah mencapai angka 1,45 juta kasus diiringi 15 ribu lebih kematian.

Pada Senin (20/9/2021), Thailand mencatat 12.709 kasus COVID-19 baru, dan 106 diantaranya meninggal.

5. Indonesia

Indonesia melaporkan penambahan 2.234 kasus baru positif COVID-19, Minggu (19/9/2021). Total kasus aktif saat ini adalah 60.969 pasien.

Per Jumat (17/9/2021) kemarin, Indonesia kembali mencetak rekor dengan angka positivity rate COVID-19 terendah, yakni 1,31 persen. Artinya, tingkat penularan COVID-19 dalam suatu wilayah terbilang cukup rendah. Jumlah tersebut menjadi yang paling rendah sejak 13 September kemarin.

Jumlah ini juga diketahui sudah dalam batas ideal yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebesar 5 persen. Selama beberapa hari terakhir, angkat positivity rate COVID-19 di Indonesia memang telah mengalami penurunan. Misalnya, pada minggu lalu (12/9/2021) yang berjumlah 3,05 persen.



Simak Video "Situasi Lonjakan Covid-19 Singapura: Ada 15 Klaster Besar"
[Gambas:Video 20detik]
(ayd/fds)
d'Mentor
×
dMentor: Awas Manipulasi Robot Trading
d'Mentor: Awas Manipulasi Robot Trading Selengkapnya