Senin, 20 Sep 2021 13:01 WIB

Positivity Rate COVID-19 RI 1,16 Persen, Jangan Senang Dulu! Ini Catatan Pakar

Vidya Pinandhita - detikHealth
Kasus COVID-19 di beberapa wilayah di Indonesia, khususnya DKI, mengalami penurunan. Namun bukan berarti virus Corona sudah hilang karena kita masih berperang melawan COVID-19. Ilustrasi. (Foto: PIUS ERLANGGA)
Jakarta -

Positivity rate COVID-19 di Indonesia tercatat menurun hingga mencapai 1,16 persen per Minggu (19/9/2021). Angka ini merupakan yang terendah dalam laporan sepekan terakhir. Namun pakar menegaskan kabar baik ini belum menjadi lampu hijau bagi RI lepas waspada.

Ahli epidemiologi dari Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI) Dr Masdalina Pane menjelaskan rendahnya angka positivity rate tak menjamin pengendalian COVID-19 di RI sudah baik.

Sebab dalam laporan terakhir pun, jumlah suspek masih tinggi. Misalnya pada Minggu (19/9/2021), suspek tercatat sebanyak 234.824.

"Gap-nya antara jumlah suspek masih besar dengan jumlah kapasitas testing. Ini PR kita sebenarnya. Karena yang seharusnya dites adalah suspek. Jika belum seluruh suspek dites, bisa terjadi under reported pada pelaporan jumlah kasus" ujarnya pada detikcom, Senin (20/9/2021).

Ia menambahkan, pada program tracing di 11 provinsi dan 63 kabupaten/kota, terdapat selisih hampir 20 persen antara kasus yang dilaporkan pemerintah melalui sistem pelaporan nasional dengan kasus sesungguhnya di lapangan.

"Ini disebabkan masih cukup banyak lab belum terkoneksi dengan sistem pelaporan nasional dan penggunaan RDT untuk diagnostik juga bisa dilakukan oleh lab-lab sederhana tersebut," jelas Pane.

"Itu permasalahan utama positivity rate kita. Kelihatannya rendah tapi sebenarnya under reported," sambungnya.

Menurutnya, penyebab terbesar penurunan kasus COVID-19 di RI kini adalah penurunan penyebaran varian Delta secara signifikan. Dalam data yang dipaparkan Pane, tercatat penurunan distribusi varian Delta terjadi sejak pekan ke-26 di 2021.

Mengingat, kemunculan varian Delta adalah salah satu Unusual Epidemic Event (UEE) yang berpotensi memicu lonjakan kasus COVID-19.

"Lebih baik pemerintah mempersiapkan semua infrastruktur, agar jangan sampai pasien susah dapat tempat tidur, jangan sampai oksigen tidak tersedia, obat-obatan hilang dari pasaran, test susah, vaksin susah. Nggak boleh itu terjadi," tegas Pane terkait antisipasi serangan UEE.

"Penurunan saat ini lebih didominasi penurunan varian Delta yang signifikan. Di banyak negara sepertinya serangan Delta antara 8-14 minggu ya," pungkasnya.



Simak Video "Menkes Budi: Positivity Rate RI Turun ke Batas Normal WHO"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/up)