Selasa, 21 Sep 2021 11:30 WIB

Diamuk Corona saat Mau Hidup Damai, Begini Cara Singapura Mengatasinya

Achmad Reyhan Dwianto - detikHealth
View of the merlion statue of Merlion Park, and the financial district in downtown Singapore. The merlion is a symbol and mascot of Singapore. Singapura kembali diterjang lonjakan COVID-19. (Foto: Getty Images/Marcus Lindstrom)
Jakarta -

Di tengah rencana hidup berdamai dengan COVID-19, Singapura kembali menghadapi lonjakan kasus Corona. Sudah tiga hari terakhir negara berpenduduk sekitar 5 juta orang itu mencatat lebih dari 900 kasus Corona dalam sehari.

Pada Senin (20/9/2021) kemarin, Singapura mencatat sebanyak 910 kasus penularan virus Corona secara lokal. Sebelumnya negara itu melaporkan kasus harian Corona sebanyak 1.012 kasus pada 19 September, dan 1.009 kasus pada 18 September.

Hal ini memicu kekhawatiran rumah sakit di sana akan menjadi penuh, seperti yang terjadi pada negara lain termasuk Indonesia, ketika menghadapi lonjakan COVID-19.

Terkait hal ini, Singapura telah menyiapkan strategi untuk mencegah rumah sakit menjadi kolaps dan tetap bertahan dari lonjakan kasus Corona. Bagaimana strateginya?

Dikutip dari Straits Times, Singapura memperkirakan hanya sekitar 10-15 persen pasien COVID-19 saja yang akan membutuhkan perawatan di rumah sakit. Sementara satu dari setiap dua pasien kemungkinan akan pulih dengan aman di rumah dan 30 persen sisanya dirawat di fasilitas perawatan masyarakat (CCF).

Direktur Pelayanan Medis Singapura, Kenneth Mak, mengatakan pentingnya untuk menentukan opsi pemulihan yang sesuai bagi setiap pasien COVID-19, tergantung dari tingkat keparahannya agar tidak membebani sistem kesehatan.

Misalnya, pasien dengan komorbid namun hanya mengalami gejala ringan, maka akan ditempatkan di CCF. Kemudian mereka yang termasuk kelompok pasien tak bergejala akan ditempatkan di CCF juga, jika tidak memiliki tempat untuk isolasi mandiri di rumah.

"Pada akhirnya, kami dapat mencocokkan jenis perawatan dari infeksi yang dialami dan riwayat penyakit mereka. Jadi kami tidak akan meremehkan penyakit seseorang," jelas Kenneth.

"Kami juga ingin memastikan kami memiliki sumber daya yang cukup untuk mereka yang benar-benar sakit parah," sambungnya.

Sebelumnya Menteri Kesehatan Singapura, Ong Ye Kung, mengatakan 98 persen pasien COVID-19 di negaranya adalah mereka yang bergejala ringan atau tanpa gejala. Ini disebut sebagai bukti bahwa program vaksinasi berhasil memberikan efek perlindungan.



Simak Video "Situasi Lonjakan Covid-19 Singapura: Ada 15 Klaster Besar"
[Gambas:Video 20detik]
(ryh/up)