Selasa, 21 Sep 2021 15:30 WIB

Tak Boleh Lengah, Begini Prediksi Ahli Soal Gelombang Ketiga Corona RI

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Lonjakan kasus COVID-19 di Tanah Air dinilai sebagai tanda Indonesia kini tengah hadapi gelombang kedua Corona. Akibat hal itu, zona merah pun bertambah. Corona di Indonesia. (Foto: Pradita Utama)
Jakarta -

Sejumlah pakar memprediksi Indonesia akan kembali menghadapi puncak kasus COVID-19 atau gelombang ketiga beberapa bulan mendatang. Ahli epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Tri Yunis Miko Wahyono menyebut hal ini akan didorong mobilitas masyarakat yang kembali meningkat dan cakupan vaksinasi masih jauh dari 50 persen.

Seperti diketahui, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) per 15 September lalu menyoroti peningkatan mobilitas seperti sebelum pandemi di sejumlah wilayah Jawa Bali seperti Jabar, Jateng, dan Banten. Sementara cakupan vaksinasi COVID-19 per 21 September baru mencapai 38,61 persen untuk dosis pertama, dosis kedua 22,02 persen.

"Gelombang adalah peak atau puncak, kalau menurut saya gelombang yang terjadi di Indonesia adalah puncak bukan wabah, jadi dari pertama sampai sekarang ya wabahnya belum selesai-selesai," beber Miko saat dihubungi detikcom Selasa (21/9/2021).

Miko menyebut puncak atau gelombang COVID-19 di Indonesia terjadi pada Desember 2020 dan Juli 2021, masing-masing dengan melampaui 20 ribu kasus harian, dan 40 hingga 50 ribu kasus COVID-19. Sementara di gelombang ketiga ke depan yang diprediksi terjadi selambatnya Maret 2021, jumlahnya tak melampaui 20 ribu kasus.

"Jadi sekarang akan menuju puncak lagi, yaitu puncak ketiga kalau, kemudian gelombang ini, atau puncak ketiga ini, akan menimbulkan puncak yang lebih kecil dari Juni 2021, dan mungkin lebih kecil dari Desember 2020, kasus hariannya tidak akan menyentuh 20 ribu," jelas Miko.

Mengapa begitu?

Miko menyebut ada efek dari antibodi pasca divaksinasi dan pasca terinfeksi COVID-19. Keduanya membantu laju penularan kasus Corona di masyarakat tak setinggi beberapa waktu lalu.

"Karena yang divaksinasi sudah meningkat, yang terinfeksi sudah meningkat, bahkan waktu Juli menurut saya orang yang terinfeksi sudah mencapai 50 persen atau lebih," sebutnya.

"Iya kalau trennya menurun, cuma menurut saya menurunnya di angka berapa itu yang menjadi tanda tanya begitu, karena testing tracing belum maksimal. Jangan dimaknai ini terkendali, tapi kalau menurun saya setuju," pesan dia sembari tetap mewaspadai lonjakan kasus COVID-19 jika protokol kesehatan kerap diabaikan.



Simak Video "Siapkah Indonesia Hadapi Varian Corona yang Lebih Ganas?"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)