Rabu, 22 Sep 2021 19:02 WIB

Kasus COVID-19 Anak Melonjak, Pakar Beri Saran soal Sekolah Tatap Muka

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Pembelajaran Tatap Muka (PTM) mulai dilakukan di Siswa SMP Negeri 3 Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat (KBB). Anak-anak tampak gembira bisa masuk sekolah lagi. Foto: Whisnu Pradana
Jakarta -

Pakar epidemiologi Universitas Griffith Australia Dicky Budiman menanggapi kemunculan klaster COVID-19 di sekolah, sejak pemberlakuan pembelajaran tatap muka (PTM) kembali dilakukan. Ia pun memberikan beberapa saran untuk mengatasi penularan agar tidak semakin meluas.

"Sebagai jaring pengaman ketika ditemukan klaster minimal dua kasus di sekolah, ya itu harus ditutup dulu untuk desinfeksi serta penguatan 3T, termasuk melacak ini dari mana (klaster penularan)," kata Dicky pada detikcom, Rabu (22/9/2021).

Dicky mengatakan pelaksanaan PTM ini tidak boleh hanya berdasarkan leveling PPKM atau data indikator epidemiologi saja. Masih banyak hal yang harus diperhatikan.

"PR-nya kesiapan keluarga atau kesiapan siswanya adalah hal yang wajib. jadi nggak boleh hanya melihat leveling PPKM saja, nggak boleh melihat data indikator epidemiologi saja, nggak boleh hanya melihat kesiapan sekolah dari infrastrukturnya atau pengurangan kapasitas atau kurikulumnya," jelas Dicky.

"Tapi juga kesiapan dari siswa dan orang tuanya. Ya, kesiapan ini adalah paham protokol kesehatan dan orang tua juga mayoritas sudah divaksinasi," lanjutnya.

Sebelumnya, dilaporkan ribuan siswa dan guru terkonfirmasi positif COVID-19 saat PTM terbatas kembali dilakukan. Total ada 1.296 yang tercatat per 20 September 2021 telah menjadi klaster baru COVID-19 di masa PTM. Kasus positif Corona terbanyak berasal dari lingkungan sekolah SD, dengan 6.908 siswa positif COVID-19.



Simak Video "Situasi Lonjakan Covid-19 Singapura: Ada 15 Klaster Besar"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/naf)