Rabu, 22 Sep 2021 22:18 WIB

Angka COVID Turun, Pemerintah Minta Masyarakat Tetap Jaga Kedisiplinan

Yudistira Perdana Imandiar - detikHealth
dr. Reisa Broto Asmoro Foto: dok. BNPB
Jakarta -

Pemerintah mengimbau masyarakat untuk terus mempertahankan tren positif penanganan COVID-19. Sebab, penurunan jumlah kasus COVID-19 berkaitan erat dengan tingkat kepatuhan masyarakat.

"Turunnya kasus aktif hingga di kisaran 50 ribu orang, capaian vaksinasi yang sudah menembus angka 80 juta untuk dosis pertama dan 45 juga untuk dosis kedua, semua adalah berita menggembirakan dan harus kita pertahankan," kata Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 dan Duta Adaptasi Kebiasaan Baru, dr. Reisa Broto Asmoro dalam keterangan tertulis, Rabu (22/9/2021).

Ia mengulas vaksinasi adalah syarat penting untuk menjalani proses transisi dari pandemi menjadi endemi. Selain memenuhi target cakupan, pemerataan capaian vaksinasi COVID-19 juga harus diperhatikan, terutama pada kelompok lansia.

dr Reisa menerangkan meski cakupan vaksinasi kategori tenaga kesehatan dan petugas pelayanan publik sangat tinggi, namun kategori lansia yang menerima dosis pertama belum mencapai 30%, apalagi dosis kedua masih kurang dari 20% terhadap sasaran yang ditetapkan. Ia menyarankan setiap pihak fokus membantu vaksinasi COVID-19 agar makin merata di semua kelompok masyarakat.

"Keberhasilan mempertahankan PPKM Level 2 di beberapa kota besar adalah hasil kerja bersama dengan wilayah-wilayah sekitarnya. Maka keberhasilan pemerataan cakupan vaksinasi pun memiliki prinsip yang sama," cetus Reisa.

Wilayah aglomerasi, menurut Reisa, dapat saling membantu dalam testing, tracing, dan treatment (3T), menjaga mobilitas, mencegah kerumunan, serta memvaksinasi warganya. Ia menegaskan tidak ada yang aman dari risiko penularan COVID-19 jika semua orang belum aman oleh vaksinasi.

Dokter Reisa juga mengapresiasi kontribusi signifikan dari kelompok relawan, aparat dan anggota masyarakat yang saling membantu, bergotong-royong mencari solusi bersama dalam pengendalian pandemi. Salah satu contohnya kolaborasi warga Surabaya untuk menyediakan tabung oksigen dan membagikan bantuan pada mereka yang terdampak. Selain itu, inisiatif masyarakat Surakarta melakukan 'Jolijolan' yang memanfaatkan ruang publik untuk saling mendonasikan atau mengambil barang sesuai yang dibutuhkan secara gratis.

Pelaksanaan PTM terbatas, kata dr Reisa, juga tak lepas dari peran antar masyarakat dalam meminimalisir risiko tertular virus, maupun memastikan kualitas belajar anak.

"Kunci keberhasilan PTM ada di tangan kita; guru, orang tua, dan murid. Jaga situasi kondusif dalam pengendalian COVID-19," tutur dr Reisa.

Terkait dibukanya akses pusat perbelanjaan, termasuk bagi anak-anak, dr Reisa mengingatkan masyarakat untuk memilih ruang publik yang mewajibkan akses aplikasi PeduliLindungi. Tujuannya, agar tingkat keamanan dan kenyamanan pengunjung lebih tinggi, diiringi penerapan protokol kesehatan terutama memakai masker.

"Perkenalkan normal sosial baru di mall ini kepada anak-anak kita. Ingat hukum universal masking, semua orang 100% harus memakai masker di ruang publik, apalagi kalau jarak aman dan ventilasi terbuka tidak memungkinkan," pesan dr Reisa.

Dalam masa transisi ini, dr Reisa mengingatkan orang tua harus mengajarkan kepada anak virus COVID-19 akan terus ada. Maka anak sebaiknya dibiasakan memakai masker dan melaksanakan protokol kesehatan lainnya sebagai cara melindungi diri sendiri dan orang lain.

"Mari kita jaga situasi kondisi yang membaik ini tetap membaik, tetap konsisten bekerja sama untuk menekan COVID-19, dan makin banyak prestasi serta berita gembira yang kita nikmati," pesan dr Reisa.

(akn/ega)