Kamis, 23 Sep 2021 17:31 WIB

Muncul Seribuan Klaster Sekolah, Kemendikbudristek: Ortu Boleh Tolak PTM

Vidya Pinandhita - detikHealth
Pembelajaran Tatap Muka (PTM) mulai dilakukan di Siswa SMP Negeri 3 Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat (KBB). Anak-anak tampak gembira bisa masuk sekolah lagi. Foto: Whisnu Pradana
Jakarta -

Pembelajaran Tatap Muka (PTM) mulai diberlangsungkan di sejumlah sekolah di beberapa kota. Namun hal ini rupanya memicu temuan kasus COVID-19 pada para murid, dengan kasus paling banyak terjadi pada anak-anak SD. Walhasil, sebanyak 1.296 sekolah diketahui menjadi klaster COVID-19.

Pada 20 September 2021, Kemendikbudristek mencatat akumulasi di 46.500 sekolah, terdapat 2,8 persen atau 1.296 sekolah yang melaporkan klaster COVID-19.

Kelompok SD mempunyai angka kasus COVID-19 terbanyak berjumlah 581 sekolah, dengan total guru dan tenaga kependidikan 3.174 orang positif COVID-19. Sementara siswa yang positif COVID-19 berjumlah 6.908 orang.

"Kasus penularan kira-kira 2,8 persen yang melaporkan," lapor Direktur Jenderal (Dirjen) PAUD dan Pendidikan Dasar Menengah Kemendikbudristek, Jumeri dalam diskusi daring Selasa (21/9/2021).

Menanggapi hal tersebut, dalam keterangan lebih lanjut Jumaeri menyebut pihak Kemendikbudtistek bersama Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tengah mengupayakan aktivitas PTM yang aman. Jumeri menegaskan pihaknya juga selalu berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk melakukan pengawasan dinamika sekolah yang melaksanakan PTM Terbatas.

"Kami juga akan terus menyampaikan pembaruan data secara transparan untuk kesuksesan PTM Terbatas, mengingat bahwa pembelajaran jarak jauh berkepanjangan dapat berdampak negatif bisa menyebabkan anak-anak Indonesia sulit mengejar ketertinggalan," terang Jumaeri dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom, Rabu (22/9/2021).

"Kami sangat membutuhkan dukungan dari pemerintah daerah memberikan izin bagi satuan pendidikan di level 1-3 untuk melaksanakan PTM Terbatas, tentunya dengan protokol dan aturan sesuai Inmendagri PPKM dan SKB 4 Menteri," sambungnya.

Orang tua boleh menolak PTM

Ia menyebut pemerintah memahami bagaimana kondisi di setiap wilayah beragam sehingga pelaksanaan PTM tak bisa disamaratakan. Sekolah diminta melayani murid sesuai kesanggupannya baik dengan PTM Terbatas atau Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

"Anak-anak bisa tetap belajar dari rumah jika orang tua belum yakin dan belum memberikan izin untuk mengikuti PTM Terbatas. Saya tekankan bahwa tidak ada proses menghukum dan diskriminasi bagi anak-anak yang belajar dari rumah," pungkas Jumeri.



Simak Video "Persiapan yang Harus Dilakukan untuk Menuju Endemi Covid-19"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/kna)