Jumat, 24 Sep 2021 09:45 WIB

BPOM AS Setujui Vaksin Booster Pfizer, Ini Daftar Efek Sampingnya

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
DKI Jakarta sudah mulai menyuntikkan vaksin COVID-19 jenis Pfizer, salah satunya bisa dilakukan di BPSDM Kemenkes.  Seperti apa suasananya? AS menyetujui vaksin Pfizer booster. (Foto: Andhika Prasetya)
Jakarta -

Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) menyetujui vaksin COVID-19 booster untuk sekelompok orang. Per Rabu (22/9/2021) lansia 65 tahun ke atas dan masyarakat di atas 18 tahun yang berisiko parah saat terpapar COVID-19 bisa mendapatkan vaksin booster.

"Individu berusia 18 hingga 64 tahun yang sering terpapar SARS-CoV-2 di institusi atau pekerjaan menempatkan mereka pada risiko tinggi komplikasi serius, termasuk kategori terpapar COVID-19 parah," jelas FDA dalam rilis resminya.

Persetujuan vaksin booster hanya diberikan pada vaksin Pfizer. Mereka yang disuntik booster setidaknya memiliki jarak enam bulan pasca vaksinasi dosis lengkap.

"Setelah mempertimbangkan totalitas bukti ilmiah yang tersedia dan pertimbangan komite penasihat kami yang terdiri dari pakar eksternal independen, FDA mengubah EUA untuk Vaksin Pfizer-BioNTech COVID-19 untuk memungkinkan dosis booster pada populasi tertentu seperti pekerja perawatan kesehatan , guru dan staf penitipan anak, pekerja grosir dan mereka yang berada di tempat penampungan tunawisma atau penjara, antara lain," kata Penjabat Komisaris FDA dr Janet Woodcock.

Persetujuan ini juga mempertimbangkan data kemanjuran vaksin Pfizer di dunia nyata dalam studi internasional CDC, Inggris, dan Israel. Studi menilai respons imun dari sekitar 200 peserta berusia 18 hingga 55 tahun yang menerima dosis vaksin booster pasca enam bulan vaksinasi lengkap.

Respons antibodi terhadap virus SARS-CoV-2 satu bulan setelah dosis booster vaksin dibandingkan dengan respons satu bulan setelah dua dosis pada individu yang sama, menunjukkan respons imun dari vaksinasi booster amat baik.

Keamanan vaksin booster juga dievaluasi pada 306 peserta berusia 18 hingga 55 tahun dan 12 peserta berusia 65 tahun ke atas yang diikuti selama rata-rata lebih dari dua bulan. Efek samping yang paling sering dilaporkan peserta uji klinis yang menerima vaksinasi booster adalah:

  • Nyeri
  • Kemerahan
  • Pembengkakan di tempat suntikan
  • Kelelahan
  • Sakit kepala
  • Nyeri otot atau sendi
  • Menggigil.



Simak Video "Hasil Uji Coba Akhir Vaksin CureVac Kurang Ampuh Lawan COVID-19"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)