Sabtu, 25 Sep 2021 16:02 WIB

Pelopor Vaksin AstraZeneca Prediksi COVID-19 Akan Jadi Seperti Flu Biasa

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
ROME, ITALY - MARCH 05: A healthcare worker of the Italian Army prepares doses of the AstraZeneca COVID-19 vaccine, as part of COVID-19 vaccinations plan for the military personnel, on March 5, 2021 in Rome, Italy. The Italian government blocked the shipment of 250,000 doses of the Oxford/AstraZeneca vaccine developed by the Anglo-Swedish group and produced in a factory near Rome. This is the first time that a European country has applied new rules to control vaccine exports, adopted in January. (Photo by Antonio Masiello/Getty Images) Pelopor vaksin AstraZeneca memprediksi COVID-19 akan menjadi seperti flu biasa. (Foto: Getty Images/Antonio Masiello)
Jakarta -

Pencipta vaksin Corona AstraZeneca, Profesor Dame Sarah Gilbert, mengungkapkan virus Corona yang mewabah saat ini mungkin tidak akan bermutasi menjadi lebih berbahaya dan mematikan. Ia meyakini bahwa virus ini di masa depan hanya akan seperti flu biasa.

Profesor Sarah mengatakan tidak ada banyak tempat untuk virus Corona menghindari kekebalan manusia. Tetapi, virus penyebab COVID-19 ini masih akan menjadi virus yang sangat menular.

Bedanya, virus COVID-19 akan cenderung menjadi kurang ganas saat menyebar di populasi manusia.

"Tidak ada alasan untuk berpikir kita akan memiliki versi SARS-CoV-2 yang lebih ganas. Pada akhirnya, virus penyebab COVID-19 ini akan menjadi seperti virus Corona yang beredar luas dan menyebabkan flu biasa," jelas Prof Sarah yang dikutip dari Daily Mail, Sabtu (25/9/2021).

Prof Sarah juga mengungkapkan bahwa manusia saat ini juga sudah hidup bersama dengan empat jenis virus Corona yang berbeda.

"Kita sudah hidup dengan empat virus Corona manusia berbeda yang tidak pernah kita pikirkan terlalu banyak. Dan akhirnya SARS-CoV-2 akan menjadi salah satunya," kata Prof Sarah.

"Ini hanya pertanyaan tentang berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke sana. Selain itu, tindakan seperti apa yang sementara harus dilakukan untuk mengelolanya," lanjutnya.

Prof Sarah Gilbert (59) merupakan pelopor vaksin Corona sekaligus pemimpin tim di Institut Jenner Universitas Oxford. Tim ini yang turut berperan menciptakan vaksin AstraZeneca-Oxford.

Sarah mengatakan saat ini tengah berjuang mendapatkan dana untuk mencegah pandemi di masa yang akan datang. Menurutnya, ini harus segera dilakukan untuk mencegah penyakit menular lainnya yang bisa menyebar ke seluruh dunia.

"Kami masih berusaha mengumpulkan dana untuk mengembangkan vaksin lainnya yang sudah kami kerjakan sebelum pandemi, baik untuk penyakit yang sudah mewabah maupun berpotensi sebabkan wabah di masa depan," pungkasnya.



Simak Video "Siapkah Indonesia Hadapi Varian Corona yang Lebih Ganas?"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/fds)