Senin, 27 Sep 2021 15:01 WIB

Cerita Nakes Saat Kasus COVID-19 di RI Melonjak, Pasien Datang Seperti Tsunami

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Seorang tenaga kesehatan membuang baju hazmat usai bertugas merawat pasien di Rumah Sakit Darurat COVID-19 (RSDC) Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta, Selasa(15/6/2021). Menurut Koordinator RSDC Wisma Atlet Kemayoran Mayjen TNI Tugas Ratmono, pihaknya menambah jumlah kapasitas tempat tidur menjadi 7.394 dari 5.994 akibat tingginya penularan COVID-19 di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/nz Foto: ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYAT
Jakarta -

Selama pandemi COVID-19 melanda banyak negara, termasuk Indonesia, para tenaga kesehatan (nakes) baik dokter maupun perawat bertugas menjadi garda terdepan. Mereka berjuang dan berkorban untuk merawat para pasien COVID-19, mulai dari yang tanpa gejala hingga yang kondisinya sudah kritis.

Saat kasus COVID-19 melonjak naik pada bulan Juli 2021 lalu, jumlah pasien yang dirawat di beberapa tempat isolasi terpusat (isoter) meningkat. Ini terjadi di Rumah Sakit Darurat COVID-19 (RSDC) Wisma Atlet dan RSDC Wisma Haji.

Salah satu dokter relawan, dr Natasya, yang bertugas di RSDC Wisma Atlet selama sekitar satu tahun pun menceritakan pengalamannya. Ia mengungkapkan saat kasus COVID-19 meledak, pasien yang datang ke Wisma Atlet seperti tsunami.

"Pada saat sesi kemarin yang sangat tinggi itu, kita dapat tantangan yang sangat berat di mana pasien yang datang seperti tsunami. Pasien yang datang nonstop," kata dr Natasya dalam konferensi pers Kemenkes, Senin (27/9/2021).

Saat itu, ia mengatakan jumlah nakes relawan di RSDC Wisma Atlet saat itu jumlahnya lebih sedikit dibandingkan sebelumnya. Tetapi, pasien yang harus mereka tangani sudah terlalu banyak.

"Kita terbatas sekali untuk yang kemarin itu. Kemarin kita memiliki nakes relawan yang lumayan sedikit dibandingkan sebelumnya, sedangkan pasiennya berbanding terbalik," ujarnya.

"Selain kita membantu orang-orang yang datang, kita juga harus take care orang yang sudah ada. Dan itu (jumlah pasien dan nakes) sangat berbanding terbalik," lanjut dr Natasya.

Hal ini juga dirasakan oleh salah seorang relawan perawat di RSDC Wisma Haji yaitu Botuah Simarmata, Ners. Ia bercerita saat itu jumlah pasien di RSDC, tepatnya di gedung A, ada 73 orang.

Tetapi, jumlah nakes yang merawatnya sangat terbatas. Mereka yang bertugas saat itu hanya berjumlah 4 orang, yang terdiri dari 1 dokter umum dan 3 perawat.

"Pada saat itu, pasien yang ada di RSDC Wisma Haji tepatnya di gedung A itu ada 73 orang yang terdiri dari 1 orang pasien ICU, 7 pasien HCU, dan sisanya itu rawatan biasa. Pada saat itu, kami yang dinas hanya ada perawat 3 orang dan dokter umum 1 orang," kata Botuah.

"Jadi pada saat itu kami berpikir apakah kami sanggup melayani pasien yang begitu banyak dengan tenaga sekitar 4 orang ini. Tapi, dengan kegigihan dan kekompakan dari tim dan kawan-kawan, itu semua dapat kami laksanakan dengan baik. Hingga pada akhirnya, pasien-pasien yang kami rawat itu dapat sembuh dan kembali ke keluarga dengan sehat," lanjutnya.

Namun, kondisi pandemi saat ini terus menunjukkan perkembangan yang baik. Seperti yang diketahui, pada Juli 2021 Indonesia sempat mengalami lonjakan kasus COVID-19. Bahkan saat itu kasusnya bisa mencapai 56.757 kasus per hari.

Meski begitu, saat ini kondisi pandemi COVID-19 sudah perlahan mulai membaik. Per Minggu (26/9/2021) kemarin, kasus hariannya hanya mencapai 1.760 kasus per hari.



Simak Video "DPR Desak Pemerintah Cari Formulasi Baru untuk Bantu Nakes COVID"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/kna)