Selasa, 28 Sep 2021 22:00 WIB

Peneliti Jepang Buktikan Vaksin Pfizer Efektif Lawan Varian Mu

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Vaksinasi Pfizer di Bekasi sudah dibuka di beberapa tempat. Vaksin itu pun dibuka untuk anak usia 12 tahun ke atas dan ibu hamil. Vaksin Pfizer. (Foto: Agung Pambudhy)
Jakarta -

Belum lama, dunia dihebohkan dengan kemunculan varian Mu atau B.1621 di beberapa negara di dunia. Varian yang diklasifikasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai variant of interest (VoI) ini memicu kekhawatiran, karena disebut mampu lolos dari antibodi lebih baik dari VoI lainnya.

Untuk itu, para ahli di Jepang mulai melakukan penelitian untuk mencari vaksin yang mampu melawan varian Mu ini. Penelitian yang dilakukan tim ahli dari University School of Medicine and Yokohama City University Hospital menunjukkan bahwa vaksin Pfizer-BioNTech cukup efektif melawan varian tersebut.

Tahap penelitian

Kei Miyakawa dan rekannya menyelidiki kemanjuran vaksin Pfizer atau vaksin BNT162b2 dalam menghasilkan antibodi penetral terhadap varian D614G asli dan garis keturunan Mu, Alpha, Beta, Gamma, Delta, dan Lambda. Mereka juga menguji kemanjuran netralisasi dari koktail antibodi monolklonal ganda yang mengandung vasirivimab dan imdevimab terhadap varian ini.

Tim ahli melakukan tes netralisasi cepat berbasis partikel mirip virus pada serum yang dikumpulkan individu, satu minggu setelah menerima dosis kedua vaksin Pfizer. Kemudian, mereka menilai kemanjuran respons antibodi penetral terhadap varian yang berbeda.

Bagaimana hasilnya?

Dikutip dari News Medical Net, rata-rata kemanjuran netralisasi pada semua varian berada di atas ambang batas efektivitas untuk semua serum yang diuji. Hal ini menunjukkan bahwa antibodi yang diinduksi vaksin bisa menetralkan sebagian besar varian, termasuk varian Mu.

Proporsi sampel yang dinetralkan kuat paling tinggi untuk sampel yang mengandung varian D614G (96 persen) dan terendah untuk sampel yang mengandung varian Beta (72 persen). Untuk garis keturunan varian Mu, netralisasi substansialnya mencapai 76 persen.

Selain vaksin Pfizer, tim ahli juga menguji koktail antibodi monoklonal ganda yang mengandung casirivimab dan imdevimab. Hasilnya, mereka menemukan bahwa semua varian yang diuji bisa dinetralkan secara efektif oleh koktail antibodi tersebut.

Penelitian ini juga menemukan bahwa varian Mu menyebabkan fusi sel ke sel, yang menurut para ahli sangat mungkin untuk meningkatkan resistensi terhadap antibodi penetral yang diinduksi vaksin.

Apa implikasi dari penelitian ini?

Dari hasil penelitian tersebut, bisa disimpulkan bahwa baik antibodi penetralisir yang diinduksi vaksin maupun koktail antibodi masih manjur untuk melawan varian Mu. Namun, para ahli mengingatkan bahwa antibodi ini bisa berkurang seiring waktu, sehingga butuh studi lanjutan untuk melihat durasi aktivitas penetral terhadap varian Mu ini.



Simak Video "Epidemiolog Khawatir dengan Kemunculan Sejumlah Varian Baru Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/fds)