Minggu, 03 Okt 2021 18:32 WIB

10 Kota RI Hadapi Ancaman Nyata Selain COVID-19, Ini Biang Keroknya

Salwa Aisyah Sheilanabilla - detikHealth
Jakarta -

Wabah COVID-19 belum usai, Indonesia juga menghadapi ancaman nyata karena polusi udara. Berdasarkan laporan Air Quality Life index (AQLI) 2021, Indonesia menempati peringkat 13 dari 243 negara sebagai negara dengan polusi tertinggi di dunia.

Sejumlah wilayah di Indonesia, bahkan memiliki kondisi polusi yang sangat buruk, jauh dari rata-rata standar WHO. Polusi udara bisa memperpendek harapan hidup rata-rata warga Indonesia hingga 2 tahun, jika mengacu pada pedoman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Dikutip dari laman resmi AQLI, berikut 10 kota di Indonesia yang memiliki polusi tinggi:

  1. Bogor
  2. Tangerang
  3. Bandung
  4. Kota Medan
  5. Jakarta Timur
  6. Surabaya
  7. Garut
  8. Sukabumi
  9. Karawang
  10. Kota Bandung.

Di samping itu, ibu kota Jakarta memiliki polusi partikulat rata-rata tahunan enam kali lipat lebih tinggi dari pedoman WHO. Hal ini berdampak pada berkurangnya angka harapan hidup warganya sampai 5,5 tahun.

Selain Jakarta, Jawa Barat juga menjadi provinsi paling tercemar di Indonesia, memangkas harapan hidup 48 juta warganya dalam 4,1 tahun.

Sementara Depok menjadi salah satu kota paling tercemar di Indonesia disusul Banten dan Jakarta. Akibatnya, warga kehilangan harapan hidup hingga 6,4 tahun.

Lantas, apa yang paling banyak berkontribusi tercemarnya udara?

Tak hanya kendaraan, melainkan batu bara, pabrik industri, hingga pembakaran biomassa yang intens di sejumlah kota turut berkontribusi dalam pencemaran udara.

Terlebih, para peneliti dari The University of Chicago menyoroti praktik pembukaan lahan dengan cara membakar hutan dan lahan gambut secara ilegal di pulau Sumatera dan Kalimantan. Pasalnya, praktik tersebut menciptakan peristiwa kabut asap tahunan.

Para pakar menilai, jika hal ini terus berlanjut bukan hanya berdampak bagi warga sekitar, melainkan juga negara tetangga.

Sejumlah wilayah yang menjadi sorotan, di antaranya kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah, dan Palembang, dengan konsentrasi partikulat rata-rata 10 tahun sekitar tiga kali lipat dari pedoman WHO.

"Harapan hidup penduduk kota-kota ini adalah 2 tahun lebih rendah dibandingkan jika rata-rata paparan partikulat jangka panjang sesuai dengan pedoman WHO. Selain itu, kebakaran tersebut menciptakan polusi lintas batas dengan dampak yang sangat signifikan di negara-negara tetangga melawan arah angin di Indonesia," pungkas mereka.

(naf/naf)