Kamis, 07 Okt 2021 09:30 WIB

Fakta Terkini Vaksin Nusantara, Belum Masuk PeduliLindungi Terkendala Izin

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Menkes Terawan terus memantau kondisi 2 WNI yang positif virus corona. Kondisi kedua orang itu pun dilaporkan cukup baik. Fakta-fakta terkini soal vaksin Nusantara besutan eks Menkes Terawan Agus Putranto. (Grandyos Zafna/detikcom)
Jakarta -

Vaksin Nusantara besutan eks Menteri Kesehatan RI Terawan Agus Putranto belum juga mendapatkan restu dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Namun penelitinya mengklaim vaksin ini potensial digunakan sebagai booster untuk vaksin COVID-19 yang ada saat ini.

Vaksin Nusantara merupakan rebranding dari Vaksin Joglosemar, yaitu vaksin COVID-19 yang berbasis dendritik yang dikembangkan oleh para ilmuwan dari Universitas Diponegoro (Undip), Semarang. Dalam pengembangannya, peneliti menggandeng PT Rama Emerald Multi Sukses (Rama Pharma), yang bekerja sama dengan AIVITA Biomedical Inc asal California.

Pengembangan vaksin ini digagas pada akhir 2020 saat Terawan masih menjabat Menteri Kesehatan. Selain itu, pendanaan riset vaksin Nusantara juga mendapat dukungan dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Litbangkes) Kemenkes.

Berikut beberapa fakta terbaru terkait Vaksin Nusantara yang perlu diketahui.

Diklaim jadi vaksin booster

Peneliti dari tim vaksin Nusantara dr Daniel Tjen, SpS, mengatakan vaksin Nusantara berpotensi untuk menjadi vaksin dosis ketiga atau vaksin booster. Sebab, platform dari vaksin ini mampu memperkuat imunitas.

"Kalau kita lihat lagi laporan terbaru, ternyata antibodi yang dihasilkan pascavaksinasi termasuk yang menggunakan platform mRNA bikinan Pfizer juga setelah 7 bulan ternyata kadar antibodi spike-nya tidak terdeteksi karena memang mekanisme kerjanya berbeda," beber dr Daniel dalam konferensi pers virtual, Rabu (6/10/2021).

"Pendekatan platform sel dendritik ini lebih banyak kita mengacu pada sel T-nya, memorinya. Jadi besar harapan kita ini sekali lagi karena sifat sel dendritik imunoterapi itu untuk memperkuat imunitas, maka kuat digunakan untuk menjadi vaksin booster apa pun," lanjutnya.

Tak 'terdaftar' di PeduliLindungi

Meski sudah banyak relawan yang menggunakan, ternyata vaksin Nusantara belum terkoneksi dengan aplikasi PeduliLindungi. Vaksin ini baru akan terhubung dengan aplikasi tersebut jika uji klinis dan izin edarnya sudah diberikan BPOM.

"Sebagai relawan vaknus juga belum bisa memakai fasilitas di PeduliLindungi untuk perjalanan," kata Wakil Ketua Komisi IX DPR RI sekaligus relawan vaksin Nusantara Emanuel Melkiades Laka Lena.

"Karena ini terkoneksi dengan data internasional hingga data di Indonesia, ini terkoneksi dengan data internasional," kata Melki.

Namun dr Daniel mengatakan kewenangan memasukkan vaksin Nusantara dalam daftar PeduliLindungi ini ada di tangan Kementerian Kesehatan.

"Jadi saya kira apakah vaksin Nusantara ini masuk ke PeduliLindungi, saya kira ini kewenangannya ada di Menkes," pungkas dr Daniel.

Kira-kira berapa harga yang bakal dibanderol untuk vaksin Nusantara? Klik ke halaman selanjutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "Potret Moeldoko Saat Disuntik Vaksin Nusantara oleh Terawan"
[Gambas:Video 20detik]