Senin, 11 Okt 2021 07:17 WIB

78 Juta Warga RI Disebut Sudah Terinfeksi COVID-19, Apa Dampaknya?

Vidya Pinandhita - detikHealth
Pasien COVID-19 di RSD Wisma Atlet, Jakarta, meningkat. Kini Bed Occupancy Rate (BOR) di Wisma Atlet menyentuh angka 80% dari kapasitas normal. Ilustrasi. Foto: Rengga Sencaya
Jakarta -

Lembaga penelitian kesehatan global independen asal Washington University, Amerika Serikat, Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) memperkirakan 29 persen warga Indonesia sudah pernah terkena COVID-19. Lantas, apakah artinya orang-orang ini sudah imun terhadap virus Corona?

Mengingat, berdasarkan data Administrasi Kependudukan di laman resmi Dukcapil Kemendagri per Juni 2021, penduduk Indonesia terdapat sebanyak 272.229.372 jiwa. Dengan begitu, 29 persen warga Indonesia setara sekitar 78,9 juta orang.

Pakar epidemiologi Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman, membenarkan bahwa di samping pengaruh vaksin, terdapat faktor imunitas natural di balik membaiknya COVID-19 RI kini. Tak lain, disebabkan oleh infeksi COVID-19.

"Pelandaian yang terjadi terutama Jawa-Bali dan sebagian dari luar Jawa, karena kondisi adanya imunitas dari kurang lebih mendekati 30 persen penduduk kita yang sudah terpapar. Ditambah lagi ada juga bisa cross section atau irisan juga sebagian yang sudah divaksinasi," jelasnya pada detikcom, Selasa (6/10/2021).

Vaksinasi mesti tetap digas

Namun, ia mengingatkan imunitas natural akibat infeksi bisa menurun dalam waktu rata-rata tiga bulan. Karena itu, program vaksinasi COVID-19 tetap harus digencarkan mengingat masih terdapat ancaman varian Corona baru, misalnya varian Mu.

"Bila mengambil masa krisis itu di akhir Agustus atau awal September atau pertengahan, maka akhir tahun atau masa 2-3 bulan terutama rata-rata 3 bulan pasca terinfeksi adalah masa yang kembali rawan ketika kurang lebih yang 29 persen ini kembali menurun imunitasnya," ujar Dicky.

"Yang artinya membuat rawan itu kalau vaksinasi lengkap (dosis penuh) tidak dikejar karena mereka kena, rawan terinfeksi kembali oleh varian baru Mu atau yang lain yang bisa menginfeksi ulang," pungkasnya.



Simak Video "Ada Varian Omicron, Perlukah Vaksin Booster untuk Umum Dipercepat?"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/up)