Selasa, 12 Okt 2021 13:00 WIB

Jadi 'Misteri' Sejak Pandemi, Kini WHO Rilis Definisi Resmi Long COVID

Achmad Reyhan Dwianto - detikHealth
Isolation Quarantine Coronavirus Covid 19 (Foto ilustrasi: Getty Images/Xesai)
Jakarta -

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada pekan lalu resmi merilis kriteria diagnostik dan definisi untuk long COVID, suatu kondisi membingungkan yang dialami sebagian penyintas COVID-19. Membingungkan karena mereka masih mengalami gejala meski sudah dinyatakan sembuh.

WHO mencatat pasien Corona yang telah pulih tetap dapat mengalami gejala beberapa bulan setelah infeksi awal mereka. Gejala ini disebut dapat cukup parah dan mempengaruhi aktivitas sehari-hari mereka.

Istilah long COVID merupakan label yang diadopsi dan dipopulerkan oleh pengidapnya sejak awal pandemi. Sebagian besar penelitian awal tentang karakteristiknya dilakukan dengan melibatkan komunitas dari pasien ini.

Namun, masih banyak pertanyaan tentang long COVID, seperti seberapa sering kondisi ini terjadi dan mekanisme yang mendasari di balik banyak gejala yang terkait dengan long COVID.

Dikutip dari Gizmodo, WHO secara resmi menyebut kasus long COVID sebagai 'post covid-19 condition', atau kondisi pasca COVID-19, pada Rabu (6/10/2021).

Kondisi ini didefinisikan sebagai sesuatu yang terjadi pada orang dengan riwayat kemungkinan atau konfirmasi infeksi SARS-CoV-2. Biasanya ini terjadi tiga bulan sejak mereka terinfeksi.

Beberapa kriteria diagnostiknya adalah kelelahan, sesak napas, dan disfungsi kognitif yang sering disebut brain fog. Gejalanya dapat menetap sejak infeksi akut atau muncul kemudian dan keparahannya dapat berfluktuasi dari waktu ke waktu.

Gejala long COVID ini dapat berlangsung setidaknya selama dua bulan sebelum diagnosis formal dibuat.

Untuk menghasilkan kriteria ini, WHO melakukan apa yang dikenal sebagai konsensus Delphi. WHO mengumpulkan masukan dari para ahli yang relevan dan pemangku kepentingan lainnya tentang suatu topik.

Ini termasuk survei staf WHO, ahli luar, pasien, dan peneliti pasien. Dalam penelitian ini, mereka menjangkau orang-orang di 44 negara di enam wilayah di dunia yang dicakup oleh WHO.

Tak hanya WHO, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) juga telah secara resmi menambahkan kode diagnostik formal untuk long COVID, atau kondisi pasca COVID-19, ke edisi terbaru International Classification of Disease (ICD-10).

Kode ICD-10 ini nantinya digunakan oleh dokter, rumah sakit, dan perusahaan asuransi untuk tujuan diagnostik dan penagihan yang mungkin sangat penting bagi pasien yang membutuhkan perawatan dan rehabilitasi jangka panjang.



Simak Video "Temuan WHO: Seperempat Penyintas Corona di Dunia Alami Long Covid-19"
[Gambas:Video 20detik]
(ryh/up)