Rabu, 13 Okt 2021 14:36 WIB

Pakar 'Berterima Kasih' Varian Delta Masuk RI, Bikin Pemerintah Sadar

Achmad Reyhan Dwianto - detikHealth
Pandemi COVID-19 DKI Jakarta makin hari makin terkendali. Salah satu indikatornya persentase kasus positif COVID-19 sudah berada di angka 0,9 persen. COVID-19 di Indonesia. (Foto: Pradita Utama)
Jakarta -

Sejumlah epidemiolog menilai gelombang ketiga COVID-19 di Indonesia tidak akan lebih parah dari lonjakan kasus sebelumnya. Pasalnya, penanganan COVID-19 di Tanah Air dinilai sudah jauh lebih baik dibandingkan beberapa waktu lalu.

Menurut ahli epidemiologi Pandu Riono dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), perbaikan ini salah satunya dipicu oleh penyebaran virus Corona varian Delta (B1617.2) yang menular begitu cepat, sehingga pemerintah perlu melakukan tindakan yang tepat untuk mengendalikannya.

"Saya berterima kasih sih sama varian Delta ini, karena telah membuat pemerintah akhirnya sadar bahwa penanganan pandemi ini betul-betul harus serentak dan terkoordinasi secara nasional," kata Pandu dalam diskusi virtual, Rabu (13/10/2021).

"Tidak pernah terpikir dulu PPKM Jawa-Bali sekaligus, atau luar Jawa-Bali sekaligus, itu tidak pernah terpikirkan oleh pemerintah atau tidak diterima," sambungnya.

Pandu mengatakan salah satu penyebab terbesar lonjakan kasus saat itu adalah mobilitas masyarakat yang tinggi, terutama pada saat liburan. Dengan pelaksanaan PPKM, aktivitas masyarakat yang berpotensi meningkatkan penularan COVID-19 menjadi lebih terkontrol.

Selain itu, kata Pandu, pencegahan masuknya varian baru Corona dari luar negeri pun sudah dilakukan dengan cukup baik. Surveilans epidemiologi dan genome sequencing makin diperluas untuk melacak penyebaran virus Corona.

Terlebih saat ini penggunaan aplikasi verifikasi, seperti PeduliLindungi, makin diperluas. Menurut Pandu, ini bisa mendeteksi orang-orang yang 'bandel' karena tidak melakukan isolasi mandiri ketika diduga atau terkonfirmasi positif COVID-19.

"Ini untuk mendeteksi orang yang harusnya diisolasi. Orang tertentu milih isolasi mandiri, tapi ternyata mereka berkeliaran. Jadi siapa yang mengawasi isolasi mandiri? Kalau ada yang melanggar isolasi mandiri, padahal dia infeksius, maka kita mohon supaya dia diisolasi terpusat sementara waktu," jelasnya.

"Maka dengan demikian kita bisa menekan risiko penularan," lanjutnya.

Pandu juga mengimbau masyarakat untuk tidak terlalu euforia dalam penurunan kasus COVID-19 beberapa hari terakhir. Bagi warga yang belum divaksinasi, maka sebaiknya segera mendapat vaksin COVID-19.



Simak Video "Kemenkes Sebut Varian Delta di Indonesia Didominasi AY.23"
[Gambas:Video 20detik]
(ryh/fds)