Sabtu, 16 Okt 2021 23:01 WIB

Gampang Banget Emosi Bisa Jadi Tanda Stres, Kapan Harus ke Psikolog?

Syifa Aulia - detikHealth
Loving husband comfort upset offended wife, caressing and hugging her from behind, caring man make peace and reconcile with lover, show support, couple in fight overcome family problems together Foto ilustrasi. (Foto ilustrasi: Dok. iStock)
Jakarta -

Pandemi COVID-19 dapat menyebabkan seseorang menjadi mudah marah. Hal ini dapat terjadi karena stres yang dirasakan akibat kebiasaan baru selama pandemi. Seperti jarang bertemu dengan teman-teman karena karantina di rumah, tempat hiburan banyak ditutup, hingga perasaan cemas ketika keluar rumah.

Psikolog dan dosen Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada, Galang Lufityanto mengatakan pandemi dapat memicu stres karena berhadapan dengan kondisi yang tidak pasti. Sebab, otak manusia diciptakan untuk mencari sebuah pola.

Galang mengatakan stres yang dialami seseorang ini kemudian berpengaruh terhadap emosi yang tidak stabil. Orang akan menjadi mudah marah meski karena hal sepele.

"Tiba-tiba ketika kita mengalami stres itu sumbunya pendek, kita kemudian jadi mudah tersulut emosi. Ketika emosi tersulut kita nggak bisa berpikir jernih," jelas Galang, Jumat (15/10/2021).

"Kondisi seperti ini banyak sekali hal-hal yang membuat kita tidak bisa berpikir dengan jernih karena banyak ketidakjelasan dan makin banyak yang dipikirkan. Akhirnya yang menonjol adalah emosi kita," tambahnya.

Ia kemudian menjelaskan tanda-tanda seseorang harus menemui psikolog atau psikiater. Menurutnya, ketika seseorang sudah merasa ruwet pada pikirannya dalam jangka panjang. Maka bisa berkonsultasi melalui telekonseling.

"Kita mungkin butuh konsultasi yang sifatnya ringan dulu. Ketika telekonseling kita akan dibantu ditata ulang pikirannya."

Selain itu, ketika stres tersebut telah menyebabkan daya tahan tubuh menurun, kondisi itu harus segera membutuhkan pertolongan ahli.

"Itu sudah butuh untuk dibantu. Kalau tidak segera ditangani maka bisa muncul depresi. Depresi itu larinya sudah ke hal-hal yang lebih parah karena memorinya jadi lebih menurun dan rentan menyakiti diri sendiri," kata Galang.



Simak Video "Siapkah Indonesia Hadapi Varian Corona yang Lebih Ganas?"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/naf)