Senin, 18 Okt 2021 20:23 WIB

Ikut Emosi Tak Ada Merah Putih di Perayaan Thomas Cup? Ini Saran Pakar

Syifa Aulia - detikHealth
Indonesia players show their gold medals after winning in the Thomas Cup mens team badminton tournament in Aarhus, Denmark, Sunday Oct. 17, 2021. (Claus Fisker/Ritzau Scanpix via AP) Foto: (AP/Claus Fisker)
Jakarta -

Legenda atlet bulu tangkis Indonesia Taufiq Hidayat merasa emosi saat mengetahui tim Indonesia yang menang di kejuaraan Thomas Cup dilarang mengibarkan bendera merah putih. Hal ini disebabkan oleh Lembaga Anti-Doping Indonesia (LADI) yang mendapat hukuman dari Badan Anti-Doping Dunia (WADA).

"Selamat piala Thomas Cup kembali ke Indonesia. Terima kasih atas kerja kerasnya tim bulu tangkis Indonesia. Tapi ada yang aneh bendera merah putih nggak ada? Diganti dengan bendera PBSI," tulis Taufiq, dalam akun Instagramnya, Minggu (17/10/2021).

Imbas hukuman yang diterima LADI sangat berdampak pada tim bulu tangkis Indonesia. Taufiq menganggap pemerintah tidak serius dalam menyelesaikan masalah tersebut.

"Ada apa dengan LADI dan pemerintah kita? Khususnya Menpora, KONI, dan KOI? Kerjamu selama ini ngapain aja? Bikin malu negara Indonesia saja. Jangan berharap jadi tuan rumah Olympic atau Piala Dunia. Urusan kecil saja tidak beres. Kacau dunia olahraga ini," ungkapnya.

Tak hanya Taufiq, warganet juga ikut merasa emosi atau kecewa kepada pemerintah karena merah putih tidak bisa berkibar. Sebenarnya, wajarkah perasaan emosi muncul karena hal tersebut?

Dari sudut pandang psikologis, emosi yang dirasakan oleh warganet dan Taufiq Hidayat adalah perasaan kecewa karena sesuatu yang tidak sesuai keinginan. Menurut Rahma Talitha, mahasiswa Psikologi Pendidikan Sekolah Pascasarjana UPI, emosi yang dirasakan manusia adalah hal yang wajar.

"Kita akan sering mengalami reaksi tertentu ketika mendengar, melihat, atau membaca sesuatu yang kenyataan atau keinginan kita. Sebagai manusia itu wajar," kata Rahma kepada detikcom, Senin (18/10/2021).

Ia mengatakan perasaan emosi dapat diatasi dengan mengendalikan diri. Menurutnya, seseorang tidak harus langsung bereaksi secara otomatis sebelum berbicara atau bertindak. Rahma menyarankan untuk merenungkan penyebab emosi atau kecewa tersebut.

"Setelah menerima apa adanya dan mengontrol emosi, kita tidak akan mengungkapkan kata-kata kasar atau tindakan anarkis," beber Rahma.

Sementara itu, psikolog klinis dari Ohana Space, Fajrin Trisnaramawati, mengatakan setelah seseorang memahami penyebab emosinya, cara selanjutnya adalah melakukan deep breathing untuk menenangkan diri.

"Katakan ke diri sendiri, 'oke tidak apa-apa, aku sedang merasa kecewa/sedih/marah'. Hal ini untuk memberikan afirmasi bahwa emosi yang dirasakan sifatnya valid, benar apa adanya, subjektif, dan personal," jelas Fajrin kepada detikcom, Senin (18/10/2021).

Menurut Fajrin, afirmasi berfungsi untuk menenangkan diri bahwa emosi yang dirasakan bersifat sementara. Ia menyarankan untuk dapat berbagi pikiran dan perasaan kepada orang lain.



Simak Video "Jangan Mager Olahraga, Dengerin Nih Pesan Liliyana Natsir!"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/fds)