Selasa, 19 Okt 2021 10:41 WIB

Waspada! Dampak Buruk Kesehatan Mental Selama Pandemi COVID-19

Yudistira Imandiar - detikHealth
depresi Foto: Shutterstock/
Jakarta -

Keterbatasan di tengah pandemi COVID-19 dapat memicu masalah kesehatan mental bagi masyarakat Indonesia. Ada beberapa kelompok masyarakat yang rentan mengalami masalah tersebut.

Pendiri Aplikasi KALBU (platform online untuk kesehatan mental masyarakat) Iman Hangga Utomo mengatakan keluhan kesehatan mental harus ditangani dengan cepat dan menggunakan cara yang tepat.

"Seperti halnya fisik yang sakit harus diobati, maka mental yang sakit juga harus mendapatkan penanganan dari para ahlinya. Misalnya, melalui konsultasi dan terapi," kata Iman dikutip dari situs covid19.go.id, Selasa (19/10/2021).

Iman menguraikan kelompok masyarakat yang rentan mengalami masalah kesehatan mental, antara lain anak dan remaja, kalangan pekerja terutama mereka yang kehilangan pekerjaan atau berkurang penghasilannya, serta orang tua dan pasangan yang diharuskan terlalu sering bersama karena adanya pembatasan kegiatan.

Menurut Iman, ada tiga dampak yang paling umum terjadi akibat masalah kesehatan mental. Pertama, hubungan tidak harmonis antar anggota keluarga, baik suami-istri, orang tua, atau adik-kakak.

"Kalau tidak harmoni itu jadi suka marah-marah di dalam rumah, atau perasaannya jadi lebih sensitif. Tentu ini tidak baik ya," ungkap Iman.

Kedua, yakni gangguan kesehatan fisik. Ia menerangkan, kesehatan mental dan kesehatan fisik saling berkaitan, maka jika kesehatan mental seseorang buruk otomatis akan mempengaruhi kesehatan fisiknya pula.

"Kan kalau mental terganggu, jadi stres. Lama-lama bisa meninggal karena stres atau sakit komplikasi yang muncul," tutur Iman.

Dampak lain yang lebih serius, yakni kecenderungan bunuh diri. Akibat tak mampu menahan tekanan, penderita masalah kesehatan mental berpotensi untuk nekat mengakhiri hidup.

"Ini cukup banyak terjadinya. Mereka cari jalan pintas dengan bunuh diri," sebut Iman.

World Health Organization (WHO) ada beberapa tanda dari orang yang memiliki kecenderungan bunuh diri, antara lain perubahan suasana hati yang parah, penarikan sosial, mengungkapkan pikiran atau rencana untuk mengakhiri hidup mereka, hingga mengucapkan selamat tinggal kepada keluarga dan teman dekat.

"Jika Anda khawatir tentang seseorang yang berisiko bunuh diri, bicaralah dengan mereka. Dengarkan dengan pikiran terbuka dan tawarkan dukungan Anda," demikian penjelasan WHO.

Iman mengimbau masyarakat tidak perlu ragu untuk memeriksakan kondisi kesehatan mentalnya, karena masalah kesehatan mental bukan sebuah aib. Ia mengatakan sudah banyak tersedia platform untuk melakukan konsultasi psikologis secara daring.

"Kita harus menghilangkan stigma negatif tentang konsultasi psikologis, bahwa kesehatan mental bukanlah hal yang tabu. Edukasi pentingnya kesehatan mental juga harus ditingkatkan sejak dini, misalnya dengan menyisipkan pendidikan tersebut ke dalam pelajaran sekolah," imbuh Iman.

(akd/ega)