Rabu, 20 Okt 2021 09:11 WIB

Dibayangi 'Delta Plus' AY.4.2, Inggris Rekor Kematian COVID-19 Sejak Maret

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Inggris kemungkinan akan memberlakukan kembali lockdown ketika lonjakan kasus harian di negara tersebut mencapai 6.000 kasus dalam 24 jam. Inggris mencetak rekor baru kasus kematian Corona sejak Maret. (Foto ilustrasi: AP Photo/Alberto Pezzali)
Jakarta -

Inggris mencetak rekor kematian COVID-19 tertinggi sejak Maret 2021. Ada 223 orang yang meninggal dunia karena COVID-19 dalam catatan 28 hari usai dites poitif Corona.

Dikutip dari The Guardian, tingkat kematian harian yang dilaporkan kini belum setinggi 9 Maret, korban meninggal hampir 15 persen dalam sepekan.

Adapun jumlah kematian resmi yang dirilis per Selasa, disebut kerap tinggi ketimbang hari biasanya karena mengejar pelaporan ketertinggalan di hari-hari sebelumnya, disebut 'efek akhir pekan'. Sementara, kasus baru Corona bertambah 43.748 orang, sedikit turun dari hari sebelumnya.

Meski begitu, kasus COVID-19 rawat inap dilaporkan terus meningkat, mencapai 921 orang, naik 10 persen dalam pekan ini. Kasus COVID-19 memang terus melonjak usai September, di Inggris.

Angkanya meningkat di kelompok usia lansia dan anak-anak sekolah menengah yang sebagian besar tidak divaksinasi. Penyebaran infeksi di luar orang yang lebih muda, telah memicu peningkatan kasus pada mereka yang berusia 50 tahun ke atas, sebuah tren yang mulai mendorong tingkat rawat inap dan kematian.

Kasus varian Delta plus meningkat

Sebuah laporan per Jumat dari Kementerian Kesehatan Inggris mengungkap peningkatan prevalensi varian Delta baru A.Y.4.2 atau lebih umum dikenal varian Delta Plus.

Varian ini pertama kali diidentifikasi pada Juli tahun ini. Varian AY.4.2 ditemukan pada 6 persen sampel COVID-19 yang diuji pada pekan lalu, dimulai sejak 27 September, menurut Kementerian Kesehatan Inggris.

Dikutip dari BBC, sejumlah kecil kasus varian Delta Plus telah diidentifikasi di AS dan Denmark. Israel, menurut laporan lain, mendeteksi kasus pertama AY.4.2 hari ini.

Direktur Institut Genetika Universitas College London, Profesor Francois Balloux, mengatakan mungkin saja varian Delta AY.4.2 memiliki penularan lebih cepat.

"Untuk meringkas, kenaikan baru-baru ini di Inggris dari AY.4.2 akan kompatibel dengan keuntungan transmisibilitas, 10 persen. Karena itu, kita harus mengawasinya. Padahal, berdasarkan susunan genetiknya, itu bukan kandidat variant of concern," jelas dia, dikutip dari Twitter @BallouxFrancois.

"Pembaruan pada AY.4.2. Lintasannya di Inggris tidak berubah selama 2 hari terakhir. Peningkatannya juga tampaknya tidak spesifik wilayah, yang mungkin menunjukkan bahwa A.Y.4.2 secara intrinsik lebih mudah menular, daripada dibawa oleh demografis," pungkas dia.



Simak Video "Kemenkes: Varian Mu dan Lambda Kalah 'Favorit' dengan Varian Delta"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)