Rabu, 20 Okt 2021 16:02 WIB

Kemenkes Ungkap Alasan Syarat Perjalanan Pesawat Kini Wajib PCR

Vidya Pinandhita - detikHealth
Syarat ke Bali untuk Turis Asing, Dibuka Mulai 14 Oktober Ilustrasi. Foto: Grandyos Zafna/detikcom
Jakarta -

Seiring perkembangan tren COVID-19 di Indonesia yang membaik, pemerintah menetapkan aturan baru untuk pelaku perjalanan via udara. Pelaku perjalanan dengan pesawat yang sebelumnya diwajibkan menyertakan hasil negatif tes COVID-19 antigen, kini harus menyertakan hasil negatif dari tes Real Time Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) yang dilakukan maksimal 2 hari sebelum keberangkatan. Apa pertimbangannya?

Juru bicara vaksinasi COVID-19 Kementerian Kesehatan, dr Siti Nadia Tarmizi menegaskan peralihan syarat tes antigen menjadi PCR untuk pelaku perjalanan dengan pesawat ini disebabkan hasil tes PCR diketahui lebih akurat daripada antigen.

"Karena angka positivity rate yang rendah saat ini kurang dari satu persen, maka kasus positif akan sangat jarang. Sehingga sensitivitas dari rapid antigen dapat menyebabkan negatif palsu," terangnya saat dihubungi detikcom, Rabu (20/10/2021).

"Karena sekarang jumlah kasus positif rendah, jadi antigen dapat menyebabkan pemeriksaan negatif. Padahal mungkin tidak negatif," sambungnya.

Ia menambahkan, tes PCR memang golden standard laboratorium COVID-19 yang diketahui paling baik untuk mendeteksi. Walhasil dengan perubahan peraturan ini, ia berharap calon penumpang pesawat bisa menyertakan hasil tes COVID-19 yang lebih akurat sebelum melakukan perjalanan.

Lain halnya pada perjalanan via darat seperti bus dan kereta api atau via laut seperti kapal laut, pelaku perjalanan masih diperbolehkan menunjukkan hasil negatif COVID-19 dari tes antigen.



Simak Video "Harga Tes PCR Diturunkan, Penyedia Alat Kesehatan Pun Menjerit"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/naf)