Kamis, 21 Okt 2021 09:50 WIB

Penumpang Diam saat Wanita Diperkosa di Kereta, Fenomena 'Bystander Effect'?

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
A photo of a young man wearing headphones while waiting for the train. He is on the right side of the image, and a red train is moving in front of him. The train has long windows that reflect the buildings in front of them. The middle section of the train is moving in a blur. There are truncated domes on the sidewalk between the man and the train. The man has short brown hair, and his headphones are black. He is wearing a gray short-sleeved shirt, tan-colored pants, black sneakers and a red and black backpack. A building with many windows is on the other side of the train. He is looking down at his smartphone. Horizontal colour image with copy space. Ilustrasi kereta. (Foto: coldsnowstorm/iStock)
Jakarta -

Kejadian nahas menimpa seorang wanita di Philadelphia, Amerika Serikat. Selama lebih dari 40 menit dirinya dilecehkan di kereta komuter.

Korban pemerkosaan tersebut tidak mendapat pertolongan dari para penumpang. Polisi menyebut mereka hanya mengangkat ponsel untuk merekam kejadian.

Dikutip dari NBC News, para ahli telah lama mempelajari bagaimana reaksi seseorang dalam situasi publik yang berbahaya atau menyusahkan. Hal ini sering dikaitkan dengan teori psikologis yang dikenal 'bystander effect'.

Bystander effect terjadi saat seseorang cenderung tidak membantu korban ketika banyak orang yang hadir di tempat kejadian.

"Ketika orang-orang berada di depan umum, mereka cenderung tidak menunjukkan kekhawatiran mereka tentang sesuatu, daripada saat mereka sendiri," kata psikolog Bibb Latané.

"Dan artinya adalah, ketika mereka melihat orang lain belum melakukan apa-apa, mereka mungkin berpikir, tidak ada alasan untuk melakukan apapun."

Latané dan rekan-rekannya mengingatkan 'bystander effect' dalam kasus pembunuhan Kitty Genovese tahun 1964 di Queens, New York.

Laporan awal tentang pembunuhan itu mengatakan ada dua belas orang menyaksikan pembunuhan, tetapi tidak melakukan tindakan apapun, atau memanggil polisi. Laporan-laporan ini kemudian terbukti salah setelah diketahui bahwa beberapa orang memang menelepon polisi atau mencoba membantu Genovese.

Sementara 'bystander effect' dapat menjelaskan bagaimana beberapa orang menanggapi korban dalam situasi publik. Psikiater Saumya Davé mencatat bahwa faktor-faktor lain harus dipertimbangkan, seperti rasa takut untuk campur tangan.

"Orang-orang mungkin membeku ketika mereka melihat sesuatu yang benar-benar menakutkan, terutama jika orang yang melakukan kejahatan atau melakukan serangan itu memiliki senjata atau sepertinya mereka sangat kuat," kata Davé.

Dia juga mengatakan beberapa orang mungkin tidak tahu cara yang tepat untuk membantu korban sehingga mereka memilih untuk tidak bereaksi.

"Mereka mungkin tidak tahu bagaimana harus bersikap. Ketika tidak ada yang melakukan sesuatu, itu hanya membuat orang lain melakukan tindakan serupa. Adanya kurang kesadaran secara umum tentang cara terbaik untuk mengintervensi dalam situasi yang berbeda," jelasnya.

Latané mengatakan sulit untuk mengetahui secara pasti apa yang membuat para penumpang tidak menolong korban atau memanggil polisi, tetapi bagi sebagian orang, mengabadikan insiden di kamera bisa menjadi cara mereka membantu korban.

"Banyak orang merasa bahwa merekam video kejadian itu bermanfaat bagi korban sehingga mereka dapat kembali ke polisi dan membagikan bukti itu," katanya.



Simak Video "AS Bersiap Sambut Turis Asing Mulai November 2021"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)