Minggu, 24 Okt 2021 15:15 WIB

Pertama Diuji ke Pasien COVID, Polyherbal ONOIWA MX Catat Rekor Muri

Erika Dyah - detikHealth
Satgas COVID-19 Foto: Satgas COVID-19
Jakarta -

Poliherbal ONOIWA MX mencatat rekor dari Museum Rekor Indonesia (Muri) untuk kategori poliherbal pertama yang melakukan uji klinis terhadap pasien COVID-19. Inovasi produk dari Nucleus Farma ini juga telah dipublikasikan ke jurnal internasional.

Adapun hasil penelitian uji klinis diketahui telah diterbitkan di European Journal of Molecular and Clinical Medicine pada Juli 2021 dan Teikyo Medical Journal Volume 44 Issue 4 pada Agustus 2021. Teikyo Medical Journal merupakan jurnal medis terindeks scopus yang diterbitkan oleh Teikyo University School of Medicine sejak 1990. Jurnal tersebut menerima hasil penelitian medis termasuk kedokteran, farmasi, biokimia, psikologi, dan sejenisnya.

"Kami berharap inovasi produk PT Natura Nuswantara Nirmala (Nucleus Farma) tidak sampai saat ini saja melainkan semakin terus berkembang dan diikuti oleh pelaku bisnis lain," ujar Representatif Muri, Sri Widayati dalam keterangan tertulis, Minggu (24/10/2021).

Sri menyebutkan capaian yang diterima Nucleus Farma pada Kamis (21/10) ini merupakan rekor pertama yang dikeluarkan Muri dalam kategori penemuan dan penelitian di bidang kesehatan.

Penelitian mengenai ONOIWA MX dilakukan oleh Guru Besar Bidang Farmakologi Bahan Alam dari Fakultas Farmasi Universitas Pancasila, Prof. Dr. apt. Syamsuddin, M.Biomed serta praktisi dokter ahli spesialis paru dr. Lusi Nursilawati Syamsi, Sp.P. Keduanya meneruskan penelitian untuk melihat potensi antiinflamasi dan antioksidan pada ONOIWA MX yang dapat berperan sebagai terapi adjuvant (yang membantu) untuk meningkatkan efektivitas pengobatan standar COVID-19.

ONOIWA MX merupakan poliherbal karena menggabungkan ekstrak Channa striata (ikan gabus), Curcuma xanthoriza (temulawak), dan Moringa oleifera (daun kelor).

Dalam penelitiannya, Syamsuddin dan Lusi menemukan kombinasi pemberian ketiga ekstrak bahan alami yang banyak manfaat itu dapat melengkapi pengobatan COVID-19 sebagai terapi adjuvant, terutama untuk pasien dengan pneumonia ringan dan sedang. Lusi menjelaskan subjek penelitian ialah pasien dengan konfirmasi PCR kemungkinan/positif dengan pneumonia COVID-19 sedang setelah memenuhi kriteria inklusi.

"Sebanyak 48 subjek diperoleh dan dibagi menjadi kelompok kontrol dan perlakuan masing-masing 24 pasien. Tiga variabel dianalisis secara bivariat, yaitu LOS, mMRC, dan CRP," jelas Lusi.

Sementara itu, CEO Nucleus Farma Edward Basilianus menyambut seruan Muri dengan kesiapan mendukung dan berkontribusi dalam perannya sebagai produsen obat tradisional di dunia kesehatan serta bermanfaat bagi masyarakat Indonesia.

"Khususnya dalam hal ini, kami sangat mendorong produk unggulannya dilengkapi dengan hasil penelitian dan terpublikasi ilmiah," tuturnya.

Sebagai informasi, Nucleus Farma juga dipimpin dua BOD lain, yakni Henryanto Komala dan Sucipto Kokadir.

(ads/ads)