Senin, 25 Okt 2021 08:30 WIB

Vaksin COVID-19 Sputnik V Dikaitkan dengan Kenaikan Risiko HIV Pada Pria

Ayunda Septiani - detikHealth
Scientists are done research on vaccine in laboratory with test tubes on Covid19 Coronavirus type for discover vaccine. Foto ilustrasi. (Foto ilustrasi: Getty Images/iStockphoto/chayakorn lotongkum)
Jakarta -

Sebuah negara di Afrika Selatan menghentikan penggunaan vaksin COVID-19 Sputnik V milik Rusia. Hal itu menyusul kekhawatiran yang disampaikan oleh negara itu.

Negara tersebut adalah Namibia. Kementerian Kesehatan setempat menyatakan untuk menghentikan penggunaan vaksin COVID-19 Sputnik V lantaran adanya kekhawatiran terkait meningkatnya risiko infeksi HIV di antara laki-laki.

"Alasan penghentian pemberian vaksin dilakukan karena sangat berhati-hati bahwa laki-laki yang menerima vaksin Sputnik V mungkin berisiko lebih tinggi tertular HIV," jelas kementerian itu seperti dikutip dari Reuters.

Tambahan informasi, Namibia telah menerima pengiriman sumbangan vaksin COVID-19 Sputnik sebanyak 30.000 dosis. Dari jumlah tersebut sejauh ini sudah diberikan kepada lebih dari 120 orang.

Regulator produk kesehatan Afrika Selatan mengatakan tidak akan mengizinkan penggunaan vaksin Sputnik. Ini berdasarkan penelitian sebelumnya yang menguji keamanan bentuk adenovirus yang dimodifikasi dan dikenal sebagai Ad5.

Mereka mengatakan, dua penelitian sebelumnya, satu di Afrika Selatan dan satu di Amerika Serikat (AS), menemukan peningkatan risiko infeksi HIV di antara laki-laki yang terkait dengan vaksin bervektor Ad5.

Pengembang vaksin Sputnik mengatakan kesimpulan apapun tentang hubungan antara vaksin dan HIV tidak berdasar.

Hasil studi klinis pada lebih dari 7.000 peserta menunjukkan tidak ada peningkatan yang signifikan secara statistik dari infeksi HIV-1 di antara penerima vaksin vektor adenovirus tipe-5.



Simak Video "Alasan WHO Akhirnya Luluh soal Vaksin Covid-19 Dosis Ketiga"
[Gambas:Video 20detik]
(ayd/kna)