Senin, 25 Okt 2021 10:10 WIB

Panel Ahli WHO Nilai Syarat Wajib PCR untuk Pesawat Tak Ideal, Ini Sebabnya

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Menanti Harga Tes PCR Covid-19 Semakin Murah Syarat wajib PCR untuk pesawat. (Foto: detik)
Jakarta -

Kebijakan tes PCR untuk syarat transportasi pesawat menuai pro kontra. Pemerintah menjelaskan aturan baru ini sebagai skrining ketat menyaring kasus terkonfirmasi positif COVID-19. Sebab, PCR adalah tes Corona dengan sensitivitas paling tinggi ketimbang tes jenis lain.

Sementara, panel ahli Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terkait COVID-19 Dicky Budiman menilai pemerintah kurang bijak saat mewajibkan syarat PCR untuk transportasi pesawat. Terlebih, risiko penularan COVID-19 di pesawat terbilang rendah.

"Kalau bicara penerbangan pesawat, risiko terjadinya klaster penularan di pesawat itu sangat kecil dibanding moda transportasi lain, karena dia ada filter dengan HEPA sirkulasi 20 kali dalam sejam, membuat transmisi menjadi sangat kecil," ungkap Dicky kepada detikcom, ditulis Senin (25/10/2021).

Ia mencontohkan kasus penerbangan dari China ke Canada, di awal-awal pandemi. Klaster COVID-19 tidak dilaporkan meskipun ada satu kasus yang belakangan terkonfirmasi Corona.

"Sehingga kalau berbasis risiko, risikonya rendah, syarat skriningnya juga jangan yang paling ketat, itu logikanya," sambung dia.

Lebih lanjut, Dicky menilai pemerintah sebaiknya menggunakan tes antigen untuk syarat perjalanan sesuai surat edaran Satgas sebelumnya. Jika dilihat dari cost effective, PCR adalah pilihan paling akhir.

"Kalau dari cost effective PCR ini menjadi di belakang pilihannya, poin terakhir, bukan hanya harus murah, tapi mudah, juga cepat," bebernya.

"Secara sumber daya atau resources juga tidak membutuhkan banyak, artinya baik waktu maupun orang," sambung dia.

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "DKI Jakarta Peringkat 47 Kota Respons Covid-19 Terbaik Dunia"
[Gambas:Video 20detik]