Senin, 25 Okt 2021 12:41 WIB

Ivermectin Ternyata 'Obat Ajaib' Pemenang Nobel, Tapi Bukan untuk COVID-19

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Ivermectin is not a brand name: it is the generic term for the drug. Foto: Getty Images/iStockphoto/RapidEye
Jakarta -

Ivermectin adalah 'obat ajaib' yang telah hadir selama lebih dari 30 tahun untuk mengobati infeksi parasit yang mengancam jiwa. Pengaruhnya yang bertahan lama terhadap kesehatan global begitu mendalam sehingga dua peneliti kunci dalam penemuan dan pengembangannya memenangkan Hadiah Nobel pada tahun 2015.

Meskipun ivermectin telah menjadi 'game changer' bagi orang-orang dengan penyakit menular tertentu, obat ini nyatanya tidak memberikan penanganan yang signifikan pada pasien COVID-19.

Dikutip dari Medical Daily, Ivermectin pertama kali ditemukan pada 1970-an selama proyek penyaringan obat hewan di Merck Pharmaceuticals. Para peneliti fokus pada penemuan bahan kimia yang berpotensi mengobati infeksi parasit pada hewan.

Setelah beberapa tahun, obat yang awalnya ditujukan untuk hewan ini akhirnya dikembangkan agar bisa dikonsumsi manusia. Eksperimen awal oleh William Campbell dan timnya dari Merck menemukan bahwa obat ini juga bekerja melawan parasit manusia yang menyebabkan infeksi yang disebut River Blindness.

Setelah dua dekade, Ivermectin membantu secara signifikan mengurangi penderitaan manusia akibat River Blindness. Upaya inilah yang diakui oleh Hadiah Nobel dalam Fisiologi atau Kedokteran 2015, yang diberikan kepada William Campbell dan Satoshi Omura atas kepemimpinan mereka dalam penelitian inovatif ini.

Penggunaan Ivermectin untuk penyakit lain

Peneliti penyakit menular sering mencoba untuk menggunakan kembali antimikroba dan obat lain untuk mengobati infeksi. Penggunaan kembali obat menarik karena proses persetujuan dapat dilakukan lebih cepat dan dengan biaya lebih rendah karena hampir semua penelitian dasar telah selesai.

Pada tahun-tahun sejak disetujui untuk mengobati River Blindness, Ivermectin juga terbukti sangat efektif melawan infeksi parasit lainnya. Ini termasuk strongyloidiasis, infeksi cacing gelang usus yang mempengaruhi sekitar 30 hingga 100 juta orang di seluruh dunia.

Hanya saja, obat ini bukan untuk terapi COVID-19.

Selanjutnya
Halaman
1 2