Selasa, 26 Okt 2021 14:35 WIB

Tes PCR Rp 300 Ribu Dinilai Masih Mahal, Pakar IDI Usulkan Subsidi

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Petugas gabungan melakukan penyekatan di check point Cileunyi. Para pengendara yang tak dapat menunjukkan surat bebas COVID-19 pun dites rapid antigen. Pakar IDI usul subsidi soal tes PCR. (Foto: Wisma Putra/Detikcom)
Jakarta -

Ketua Satgas COVID-19 Ikatan Dokter Indonesia Prof Zubairi Djoerban menilai penerapan wajib PCR di semua moda transportasi memberatkan sejumlah kalangan. Terlebih jika harga hanya diturunkan menjadi Rp 300 ribu, ia mendesak adanya subsidi dari pemerintah terkait harga PCR.

"Harga tes PCR jadi Rp300 ribu sepertinya masih berat bagi sebagian besar kalangan," cuit Prof Zubairi dalam akun Twitternya @ProfesorZubairi, Selasa (26/10/2021).

"Apalagi jika diterapkan di seluruhmoda transportasi. Bayangkan kalau sekeluarga 4-5 orang. Kekuatan pasar harus mendorong hargaPCR terus turun--didukung pemerintah yang juga menerapkan subsidi," sambung dia.

Kilas balik di tahun 1987 saat menghadapi kasus HIV, Zubairi menjelaskan harga tes viral load kala itu juga sangat mahal. Mencapai 1,7 juta untuk sekali tes.

"Kemudian turun beberapa kali, sampai akhirnya pemerintah punya program subsidi tes tersebut," kata dia.

Zubairi menilai, penerapan subsidi dalam tes tersebut bisa juga diterapkan pada tes PCR.

"Kalau tes viral load bisa, kemungkinan tes PCR juga bisa," tutupnya.

Wacana penerapan syarat PCR untuk seluruh moda transportasi muncul usai pemerintah melaporkan peningkatan kasus COVID-19 di tengah mobilitas yang kembali tinggi. Meski kasusnya tidak begitu signifikan, hal ini menjadi kekhawatiran pemerintah di tengah ancaman gelombang ketiga COVID-19.



Simak Video "Timeline Kebijakan PCR Naik Pesawat yang Berubah-ubah"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)