Kamis, 28 Okt 2021 14:30 WIB

Muncul Tudingan Mafia di Balik Harga Tes PCR, Ini Jawaban Kemenkes

Vidya Pinandhita - detikHealth
Presiden Joko Widodo meminta penurunan harga tes PCR menjadi Rp 300 ribu. Kemenkes menyatakan akan mengecek terlebih dahulu dan melakukan perhitungan. Ilustrasi. Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Tingginya harga tes COVID-19 PCR sempat menuai kritik. Pasca ditetapkannya harga baru tes PCR pada Rabu (27/10/2021) dengan tarif maksimal Rp 300 ribu, muncul tuduhan adanya peran mafia dalam dinamika penetapan tarif pemeriksaan COVID-19. Kementerian Kesehatan menjawab kabar miring tersebut, apa katanya?

"Kalau tentang mafia kita belum mendapat informasi ini secara resmi, mungkin aparat penegak hukum yang bisa mendeteksi hal seperti ini," kata juru bicara vaksinasi COVID-19 Kemenkes, dr Siti Nadia Tarmizi, pada detikcom, Kamis (28/10/2021).

"Penurunan harga PCR agar masyarakat dapat lebih mengakses layanan PCR, terutama di masa saat kita sedang menekan laju penularan serendah mungkin," sambungnya.

Ia menegaskan, perkara dugaan mafia PCR tak bisa diduga-duga. Diperlukan laporan yang jelas dari masyarakat yang sudah diverifikasi oleh aparat hukum.

Dalam kesempatan lainnya, Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan (Ditjen Yankes) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) secara tegas membantah tuduhan ada mafia di balik dinamika harga PCR COVID-19.

Menurutnya, penurunan harga tes PCR tersebut dipengaruhi turunnya jumlah kasus COVID-19 di dunia. Walhasil supply alat tes berlebih, kebutuhan testing (demand) justru menurun.

"Ada mafia-mafia seperti itu tidak benar, jadi jangan tendensius ya. Kita semua sekarang sudah zamannya terbuka, pada awal 2021 dulu boleh cek harga reagen bisa dicari pasarannya. Jadi memang tinggi 2020, dan 2021 sudah mulai produksi ya turun harganya ya," tegas Azhar dikutip dari CNNIndonesia.com, Kamis (28/10/2021).

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "Pandangan Epidemiolog soal Perbedaan Harga PCR Indonesia dan India"
[Gambas:Video 20detik]