ADVERTISEMENT

Sabtu, 30 Okt 2021 12:31 WIB

Pelaku Pamer Kelamin Nekat Beraksi di Tempat Ramai, Harus Apa Jika Bertemu?

Salwa Aisyah Sheilanabilla - detikHealth
Pelaku ekshibisionis mengincar korban di Jalan Sudirman Foto: Pelaku ekshibisionis mengincar korban di Jalan Sudirman (tangkapan layar video)
Jakarta -

Meski baru ramai belakangan, ternyata kasus ekshibisionisme sudah lama terjadi dan cukup umum terjadi di tengah masyarakat. Psikolog menyebut dalam 10 sampai 20 tahun terakhir muncul banyak gangguan penyimpangan seksual, termasuk ekshibisionisme.

Psikolog Klinik Forensik, Kasandra Putranto, menjelaskan bahwa di Indonesia perilaku semacam ini mungkin masih jarang terdengar. Padahal, menurutnya sudah sejak 10 hingga 20 tahun belakangan marak bermunculan gangguan penyimpangan seksual, seperti ekshibisionisme.

Kasandra membeberkan ekshibisionisme sendiri merupakan salah satu dari gangguan penyimpangan seksual yang termasuk dalam klasifikasi paraphilia. Dengan kata lain, pelaku secara terus-menerus selalu berusaha untuk mencari kepuasan dengan cara menunjukkan alat kelamin atau melakukan masturbasi di depan umum atau di depan korban.

Kondisi ini, Kasandra menyebutkan dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti paparan pornografi yang berlebihan, kurangnya pemahaman normal sosial yang mendorong pelaku melanggar norma sosial dan agama dan sebagainya.

Pelaku ekshibisionis cenderung mencari korban yang terlihat tidak berani melawan dan melakukannya di tempat sepi. Kendati demikian, penelitian terakhir menemukan bahwa pelaku sudah lebih berani dengan melakukan aksinya di tempat ramai.

"Ternyata penelitian membuktikan mereka sekarang sudah lebih berani di tempat ramai pun berani," terang Kasandra dalam program eLife detikcom, Jumat (29/10/2021).

Apa yang harus dilakukan jika berada dalam situasi tersebut?

Kasandra menjelaskan, apa yang dicari dari pelaku dengan melakukan aksi pamer alat kelamin atau masturbasi di depan umum adalah untuk mendapatkan kepuasan dari melihat ekspresi korban yang ketakutan, kaget, dan malu.

Maka dari itu, ia menyarankan korban untuk jangan diam terpaku atau kaget. Sebisa mungkin untuk menguasai emosi dan rasa takut, kemudian berikan reaksi seperti berlari atau berteriak.

"Apabila seseorang berada di dalam situasi tersebut harus bisa memberikan reaksi cepat karena yang mereka kejar itu ekspresi kaget, takut, malu, terhina dan sebagainya, yang biasanya korban itu freeze," tutur Kasandra.

"Justru jangan sampai freeze karena begitu [pelaku] tahu ada gelagat, mereka akan melakukan seperti itu, harus bisa segera bertindak cepat, teriak, kemudian pergi atau lari, yang jelas jangan menampilkan ekspresi yang diharapkan," lanjutnya.



Simak Video "Lagi-lagi Ekshibisionis"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/kna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT