Rabu, 03 Nov 2021 10:38 WIB

Hanna Kirana Meninggal, Wanita Muda Juga Bisa Gagal Jantung? Ini Kata Dokter

Vidya Pinandhita - detikHealth
Jakarta -

Pesinetron belia Hanna Kirana meninggal dunia, Rabu (3/11/2021). Berdasarkan informasi dari asisten pribadinya, Icha, Hanna Kirana meninggal dunia akibat gagal jantung.

"Sakit gagal jantung," kata Icha saat dikonfirmasi detikcom, dikutip dari detikHot, Selasa (2/11/2021).

Spesialis jantung dar RS Mayapada, dr Ayuthia Putri Sedyawan, BMedSc, SpJP, FIHA, menjelaskan gagal jantung tak hanya dialami orang dewasa atau lanjut usia, melainkan juga orang-orang berusia muda termasuk wanita, tergantung penyebabnya.

Di antaranya, penyakit jantung bawaan, cardiomyopathy, infeksi otot jantung atau lapisan jantung.

"Gagal jantung bisa disebabkan oleh gangguan koroner atau serangan jantung, kardiomiopati, penyakit katup, infeksi, dan lain-lain," terangnya pada detikcom, Rabu (3/11/2021).

"Bisa dicegahnya atau tidak tergantung dari penyebabnya. Namun gagal jantung tentu dapat kita optimalkan agar kualitas hidup pasien tetap baik," sambungnya.

Ia menambahkan, di samping pencegahan gagal jantung dengan gaya hidup sehat, terdapat sejumlah gejala yang harus diperiksakan agar pasien beroleh intervensi sesegera mungkin. Gejala tersebut meliputi cepat lelah, ngos-ngosan, pingsan, dan jantung berdebar.

"Diperiksakan dulu. Untuk mengetahui apakah keluhan yang dirasakan tersebut merupakan suatu penyakit atau bukan. Setelahnya, tergantung diagnosa dan penyebab, baru kita obati," jelas dr Ayuthia.

Bukankah wanita terlindungi hormon esterogen?

Pernah mendengar bahwa wanita berisiko lebih kecil terkena penyakit jantung dibanding pria lantaran terlindungi oleh estrogen? Benar. Namun dr Ayu meluruskan, hal tersebut sebenarnya berlaku untuk penyakit jantung koroner.

Mengingat, terdapat banyak jenis penyakit jantung. Bukan hanya serangan jantung, melainkan juga penyakit jantung bawaan, kelainan otot jantung, penyakit katup jantung, sampai kelainan listrik jantung.

"Wanita yang gaya hidupnya baik dan tidak memiliki komorbid memiliki risiko lebih kecil karena estrogen itu untuk kasus penyakit jantung koroner," terang dr Ayuthia.

"Karena estrogen melindungi pembuluh darah lebih elastis dan permukaanya rata, sehingga risiko untuk terjadinya penumpukan plak berkurang," pungkasnya.

(vyp/up)