Kamis, 04 Nov 2021 05:30 WIB

Round Up

Dikaitkan dengan Meninggalnya Hanna Kirana, Ini 5 Fakta Penyakit Jantung

Salwa Aisyah Sheilanabilla - detikHealth
Jakarta -

Kabar duka datang dari industri hiburan tanah air. Pesinetron muda Hanna Kirana meninggal dunia, Selasa (2/11/2021). Asisten pribadinya, Icha, mengungkapkan sepupu artis Citra Kirana ini meninggal karena gagal jantung.

"Sakit gagal jantung," kata Icha saat dikonfirmasi detikcom, dikutip dari detikHot, Selasa (2/11/2021).

Hanna Kirana meninggal di usia 18 tahun akibat gagal jantung. Fakta ini mematahkan anggapan bahwa wanita aman dari risiko sakit jantung di usia muda.

Dokter jantung dari RS Mayapada, dr Ayuthia Putri Sedyawan, BMedSc, SpJP, FIHA, menjelaskan bahwa gagal jantung tak hanya dialami orang dewasa atau lanjut usia, tetapi juga orang-orang berusia muda termasuk wanita, tergantung penyebabnya.

"Gagal jantung bisa disebabkan oleh gangguan koroner atau serangan jantung, kardiomiopati, penyakit katup, infeksi, dan lain-lain," jelasnya pada detikcom, Rabu (3/11/2021).

Sementara itu, dijelaskan oleh Dokter Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM, dr Humaera Elphananing Tyas, merupakan penyakit di mana organ jantung tidak bisa memompa darah ke seluruh tubuh, seperti dalam kondisi normal. Untuk mengetahui apakah penyakit yang dialami seseorang merupakan gagal jantung atau bukan, tidak cukup hanya berdasarkan satu gejala saja.

"Tidak bisa ujug-ujug (tiba-tiba), orang dengan keluhan sesak sama bengkak pada kaki belum bisa dikatakan mengalami gagal jantung," beber Dokter Humaera dikutip dari laman resmi UGM, Rabu (3/11/2021).

Dirangkum dari berbagai sumber, berikut fakta-fakta terkait penyakit gagal jantung yang diidap Hanna Kirana.

1. Gejala gagal jantung

Gagal jantung umumnya menimbulkan gejala seperti:

  • sesak napas
  • kaki bengkak
  • perut kembung
  • kondisi mudah merasakan kelelahan.

Meski begitu, dr Humaera menegaskan bahwa gejala di atas saja tidak cukup untuk memvonis bahwa pasien menderita gagal jantung.

"Masih perlu pemeriksaan fisik dan penunjang lebih lanjut, seperti pemeriksaan irama jantung, pemeriksaan bentuk dan kondisi jantung dan paru-paru, serta pemeriksaan kinerja jantung," imbuhnya.

dr Ayuthia menambahkan, terdapat sejumlah gejala gagal jantung yang harus diperiksakan, meliputi cepat lelah, ngos-ngosan, pingsan, dan jantung berdebar.

"Diperiksakan dulu. Untuk mengetahui apakah keluhan yang dirasakan tersebut merupakan suatu penyakit atau bukan. Setelahnya, tergantung diagnosa dan penyebab, baru kita obati," kata dr Ayuthia.

2. Tips menjaga kesehatan jantung

Beberapa tips mudah yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan jantung dari dr Humaera, di antaranya sebagai berikut.

  • Makan dengan teratur
  • Jangan terlalu sering mengonsumsi makanan instan dan junk food
  • Perbanyak makan buah dan sayur
  • Perbanyak minum air putih
  • Hindari atau kelola stres
  • Rutin berolahraga

Selain cara di atas, dr Humaera juga menyarankan untuk melakukan screening jantung. Sebab, gagal jantung tidak hanya disebabkan oleh gaya hidup tidak sehat, tetapi juga faktor keturunan atau genetik.

"Dengan dilakukan screening jantung, maka diharapkan dapat mengetahui kelainan atau kendala-kendala yang ada pada jantung," katanya.

Bagi pasien yang mengalami gagal jantung, dr Humaera menyarankan untuk melakukan vaksinasi influenza dan pneumonia. Sebab, influenza dapat memperburuk kondisi atau memperparah penyakit gagal jantung yang dialami seseorang.

3. Benarkah wanita lebih rendah risiko gagal jantung karena terlindungi hormon estrogen?

dr Ayu membenarkan pernyataan tersebut. Kendati demikian, ia meluruskan bahwa hal tersebut berlaku untuk penyakit jantung koroner. Sebagai informasi, terdapat berbagai jenis penyakit jantung. seperti, penyakit jantung bawaan, kelainan otot jantung, penyakit katup jantung, sampai kelainan listrik jantung.

"Wanita yang gaya hidupnya baik dan tidak memiliki komorbid memiliki risiko lebih kecil karena estrogen itu untuk kasus penyakit jantung koroner," papar dr Ayuthia.

"Karena estrogen melindungi pembuluh darah lebih elastis dan permukaanya rata, sehingga risiko untuk terjadinya penumpukan plak berkurang," lanjutnya.

4. Apa bedanya dengan henti jantung?

Henti jantung atau cardiac arrest terjadi ketika jantung berhenti memompa darah dengan efektif. Kondisi ini disebabkan berbagai macam hal, termasuk gagal jantung dan yang paling sering adalah serangan jantung (heart attack).

5. Serangan jantung

Meksi kerap dianggap sama dengan henti jantung, pada dasarnya kedua hal tersebut berbeda. Serangan jantung terjadi ketika aliran darah ke jantung tersumbat. Beberapa penyebabnya bisa karena lemak, kolesterol, yang menumpuk dan membentuk plak di pembuluh darah arteri.

(up/up)