Kamis, 04 Nov 2021 10:35 WIB

Warga Panik Buying Bikin Supermarket Kosong, Ada Apa dengan China?

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
WUHAN, CHINA - AUGUST 2:(CHINA OUT) People wear protective masks as they line up to pay in a supermarket on August 2, 2021 in Wuhan, Hubei Province, China. According to media reports, seven migrant workers returned positive COVID-19 nucleic acid tests. Wuhan has not reported locally transmitted cases for over a year.  (Photo by Getty Images) Panic buying di China. (Foto: Getty Images)
Jakarta -

Kementerian Perdagangan China belum lama ini mengeluarkan surat edaran untuk memulai mengisi persediaan makanan dan kebutuhan pokok. Tidak sedikit warga yang panik dan akhirnya memborong semua barang di supermarket, memicu panic buying.

Warga China sejak Rabu (3/11) dilaporkan mulai bergegas ke supermarket untuk mendapatkan persediaan bahan makanan pokok seperti minyak goreng dan beras. Mereka juga mulai menimbun sayur mayur.

Surat edaran dari Kementerian ini dibuat saat China melaporkan lonjakan tak biasa dari kasus COVID-19. Lockdown pun diberlakukan di banyak wilayah.

Dilaporkan Reuters, antrean panjang terjadi di kios kubis supermarket. Banyak orang membeli persediaan sayuran yang secara tradisional disimpan di rumah dan dikonsumsi selama musim dingin mendatang.

"Ini akan menjadi musim dingin yang dingin, kami ingin memastikan kami memiliki cukup makanan," kata seorang wanita yang memuat nasi ke sepeda di luar supermarket di pusat Beijing.

Beberapa kota, termasuk Tianjin di utara dan Wuhan juga telah mengeluarkan semua sayuran musim dingin dari stok untuk dijual dengan harga lebih rendah di supermarket. Beberapa warga mengeluh secara online tentang rak supermarket yang kosong karena adanya panic buying ini.

"Ada ketidakpastian tentang terjadinya wabah COVID-19. Begitu wabah terjadi, mata pencaharian masyarakat akan terpengaruh. Itu sebabnya orang menimbun persediaan musim dingin untuk menghindari dampak COVID-19," kata Ma di A.G. Holdings.

China melaporkan jumlah tertinggi kasus baru COVID-19 yang ditransmisikan secara lokal dalam hampir tiga bulan termasuk sembilan infeksi baru di Beijing, peningkatan satu hari terbesar di ibu kota tahun ini.

Negara yang menetapkan 'nol kasus' ini tidak menoleransi satu kasus corona pun yang menyebabkan pembatasan ketat dan lockdown kota dengan jutaan warga.

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "Negara Terbaik Hadapi Pandemi, Indonesia di Urutan Berapa?"
[Gambas:Video 20detik]