ADVERTISEMENT

Selasa, 09 Nov 2021 10:01 WIB

Tarif Terus Berubah, Bisakah Tes PCR Digratiskan? Ini Kata Menkes

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Pemerintah terus berupaya dalam meningkatkan testing dan tracing di permukiman padat penduduk guna memutus mata rantai penyebaran Corona. Bisakah tes PCR digratiskan? Begini jawaban Menkes Budi. (Foto: Agung Pambudhy)

Alasan tarif tes PCR terus berubah

Menkes Budi menceritakan saat pemerintah melakukan pemesanan perdana mesin PCR yang diproduksi perusahaan asal Swiss, Roche, di akhir Maret 2021. Saat itu ia masih menjabat sebagai Wakil Menteri BUMN.

"Pada saat itu sulit sekali mendapat PCR Roche dan salah satunya yang sudah ada di dalam negeri dan paling besar kapasitasnya adalah mesin PCR Roche 6800 yang ada di PMI waktu itu," ujar Menkes Budi.

"Tapi, karena harganya puluhan miliar jadi mahal sekali, kami akhirnya bekerja sama dengan IHC (Holding Rumah Sakit BUMN) per transaksi. Dan seingat saya, pada saat itu belum termasuk biaya-biaya operasi dari RS, per transaksinya kita sudah bayar hampir mendekati 700 ribu rupiah," jelasnya.

Kemudian, pemerintah akhirnya membeli mesin tes PCR yang lebih murah dan dibagikan ke seluruh BUMN dan perguruan tinggi di Indonesia, sehingga harganya makin turun. Itu didapatkan dari perusahaan-perusahaan China, sehingga alat dan reagennya lebih murah.

Ia menjelaskan selama menjabat sebagai Menteri Kesehatan, tarif tes PCR ini sudah mengalami perubahan sebanyak dua kali. Pertama kali menjadi 475 ribu rupiah dan yang terbaru yaitu 275 ribu rupiah.

"Itu semuanya berbasiskan advice atau masukan dari BPKP dan itu yang kita gunakan. Dan memang BPKP sendiri kondisinya berubah karena pasarnya itu berubah. Jadi, makin ke sini makin banyak yang produksi, sehingga biaya cost-nya juga makin lama makin turun," pungkasnya.

Halaman
1 2 Tampilkan Semua

(sao/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT