Rabu, 10 Nov 2021 05:30 WIB

Prancis Sarankan Vaksin Moderna Tak Dipakai Usia 30 Tahun ke Bawah, Ada Apa?

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Ilustrasi vaksin Moderna Foto: Rifkianto Nugroho/detikcom
Jakarta -

Prancis menyarankan untuk tidak menggunakan vaksin COVID-19 Moderna bagi usia 30 tahun ke bawah. Pernyataan otoritas kesehatan setempat muncul usai sebuah penelitian menunjukkan risiko peradangan jantung terkait vaksin mRNA.

Dikutip dari Medical Xpress, studi dari Epi-Phare, sebuah kelompok penelitian keamanan obat-obatan independen yang bekerja sama dengan pemerintah Prancis, mengkonfirmasi temuan kasus miokarditis usai vaksinasi mRNA, meskipun jarang terjadi.

Penelitian menganalisis semua pasien di Prancis berusia 12 hingga 50 tahun yang dirawat di RS karena miokarditis (radang otot jantung) atau perikarditis (radang jaringan di sekitar jantung) antara 15 Mei dan 31 Agustus tahun ini.

Hasil studi menunjukkan vaksin Pfizer dan Moderna meningkatkan risiko penyakit ini, tujuh hari usai divaksinasi.

Meski risikonya terbilang rendah, kasus miokarditis lebih tinggi terjadi pada pria di bawah 30 tahun dan terutama setelah menerima dosis kedua vaksin Moderna, diperkirakan ada 132 kasus miokarditis dari per juta dosis yang diberikan.

Untuk Pfizer hasilnya hampir 80 persen lebih rendah, dengan jumlah kasus 27 per juta dosis. Sementara pada wanita di bawah 30 tahun, vaksin Moderna menyebabkan miokarditis di 37 kasus per juta dosis.

Risiko perikarditis juga lebih besar setelah menerima dosis kedua vaksin Moderna pada orang di bawah 30 tahun, dengan 18 kasus per juta dosis yang diberikan pada pria muda.

Kabar baiknya, tidak ada kematian di antara pasien yang dirawat di rumah sakit dengan miokarditis maupun perikarditis, setelah vaksinasi.

AS juga telah menunda persetujuan vaksin Moderna untuk kelompok muda, meskipun minggu lalu mereka merekomendasikan vaksin Pfizer untuk anak-anak usia lima hingga 11 tahun setelah meninjau risiko miokarditis.

Ahli jantung anak Matthew Oster, mengomentari rekomendasi vaksin Pfizer pada saat itu. Ia jauh lebih khawatir tentang risiko COVID-19 bagi kelompok muda hingga anak-anak, daripada risiko yang ditimbulkan oleh vaksin.

Mahmoud Zureik, yang mengepalai studi penelitian Epi-Phare, juga menggemakan sentimen tersebut.

"Ketika Anda mengukur efektivitas vaksin terhadap kasus COVID-19 yang parah terhadap risiko yang ada, nilai vaksin tetap tidak diragukan," katanya kepada AFP.

Simak video 'Khawatir Covid-19 Melonjak, Presiden Prancis Perketat Aturan':

[Gambas:Video 20detik]



(naf/up)