Rabu, 10 Nov 2021 08:31 WIB

Cerita WNI Soal Panic Buying di China yang Bikin Supermarket Kosong

Ayunda Septiani - detikHealth
WUHAN, CHINA - AUGUST 2:(CHINA OUT) People wear protective masks as they line up to pay in a supermarket on August 2, 2021 in Wuhan, Hubei Province, China. According to media reports, seven migrant workers returned positive COVID-19 nucleic acid tests. Wuhan has not reported locally transmitted cases for over a year.  (Photo by Getty Images) Foto ilustrasi. (Foto: Getty Images)
Jakarta -

Panic buying di China dimulai dengan pemberitahuan dari Kementerian Perdagangan pada 1 November 2021, yang memberi tahu otoritas setempat untuk menstabilkan pasokan dan harga pangan, termasuk untuk sayuran, daging, dan minyak goreng sebagai persiapan untuk bulan-bulan dingin yang akan datang.

Ada beberapa spekulasi yang muncul mengenai hal ini. Beberapa mengatakan panic buying terkait dengan akan dilakukannya lockdown besar-besaran karena COVID-19 oleh pemerintah, tapi tidak sedikit juga yang mengaitkannya dengan isu konflik dengan Taiwan.

Terkait panic buying yang terjadi di sejumlah kota, seorang warga negara Indonesia (WNI) bercerita terkait hal tersebut. WNI yang enggan diungkap identitasnya tersebut menjelaskan bahwa di daerah tempat tinggalnya, Shanghai tak mengalami panic buying.

"Cuma ada daerah seperti Jiangsu yang menyarankan penduduknya untuk siap-siap stok makanan, baterai dan lain-lain karena ada kemungkinan situasi memanas dengan Taiwan," jelas WNI tersebut, dikutip dari CNNIndonesia.com.

"Tapi saat ini sih tidak ada yang panik," tambahnya.

Meski demikian, ia tak bisa menceritakan lebih banyak soal bagaimana situasi Taiwan dan China yang saat ini memanas karena isu sensitif tersebut.

Sementara itu, Kementerian Perdagangan China sudah mengeluarkan pernyataan dengan meyakinkan warga bahwa tidak ada ancaman yang akan terjadi terhadap pasokan makanan. Pemerintah juga menenangkan spekulasi daring dengan mengatakan maksud dari pemberitahuan itu adalah untuk memastikan orang-orang siap untuk penguncian atau karantina karena wabah virus Corona.

"Dalam jangka panjang, ini (memastikan pasokan aman) juga mengadvokasi penduduk untuk meningkatkan kesadaran mereka tentang manajemen darurat, meningkatkan cadangan rumah tangga dari komoditas yang diperlukan untuk melengkapi sistem darurat nasional," tulis kementerian dalam sebuah artikel yang diterbitkan di saluran WeChat-nya.

Beberapa supermarket di China dilaporkan kosong. Warga bergegas menimbun kubis, beras dan tepung.



Simak Video "Ahli Gizi: Susu Bear Brand Sama Seperti Susu UHT Biasa"
[Gambas:Video 20detik]
(ayd/kna)