ADVERTISEMENT

Senin, 29 Nov 2021 16:32 WIB

Hari AIDS Sedunia

COVID-19 Bermutasi Lebih Lama pada Pengidap HIV, Alasan Omicron Muncul di Afsel?

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Hospital COVID
Healthcare workers during an intubation procedure to a COVID patient Fakta baru di Hari AIDS sedunia, virus Corona lebih lama bermutasi pada pengidap HIV-AIDS. (Foto: Getty Images/Tempura)
Jakarta -

Pakar epidemiologi Universitas Griffith Australia Dicky Budiman menilai kemunculan varian Omicron di Afrika Selatan dilatarbelakangi dua hal. Pertama, kemungkinan banyaknya pengidap HIV-AIDS bisa mendorong mutasi virus Corona bertahan lebih lama.

"Omicron ini lahir di Afrika, catatan sangat pentingnya adalah Afrika suatu negara yang memiliki banyak kasus dengan immunocompromised, masalah imunitas yang dalam hal ini banyak yang mengidap HIV-AIDS, ini salah satu hipotesis saya," sebut Dicky kepada detikcom Sabtu (27/11/2021).

"Jadi pada pengidap seperti itu, akan sangat lama virus bisa diam bermutasi dalam tubuh, dan itu memberikan kesempatan kecepatan mutasi yang banyak sehingga lahir satu varian dari sekian mutasi yang terjadi, probabilitas yang terjadi itu akan semakin besar timbul suatu varian yang akhirnya super," sambungnya.

Perjalanan varian Omicron menyebar lebih cepat dibandingkan kemunculan varian Delta. Asal mutasinya juga bukan dari COVID-19 varian Delta. Sementara, respons COVID-19 di Afrika masih serba terbatas, mulai dari strategi testing, tracing, hingga cakupan vaksinasi masih rendah.

Hal itulah yang kemudian menyebabkan kemunculan varian super dengan 32 mutasi. Satu-satunya varian yang langsung dikategorikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjadi variant of concern (VoC), berhasil 'lompat kelas'.

Meski begitu, menurut Dicky larangan perjalanan dari Afrika tak efektif menekan risiko penularan. Ia hanya mendesak pengetatan pembatasan dengan masa karantina kembali 7 hari dan memastikan hasil tes negatif COVID-19 saat kedatangan hingga setelah masa karantina selesai.

Sejauh ini Dicky menilai belum ada risiko vaksin COVID-19 menjadi tidak efektif, sehingga vaksinasi Corona masih menjadi salah satu senjata ampuh melawan varian baru Corona, dengan syarat protokol kesehatan tak dilonggarkan.



Simak Video "Kasus Harian Covid-19 Jepang Tembus 100.000"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/kna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT