Jumat, 03 Des 2021 05:47 WIB

Round Up

Omicron Sudah Sampai Singapura, Yakin Belum Ada di Indonesia?

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Tenaga kesehatan melakukan tes swab antigen kepada warga di Gg Bahagia, Kel Gerendeng, Kec Karawaci, Tangerang. Upaya ini sebagai tracing atau pelacakan untuk menekan penyebaran COVID-19. Virus Corona COVID-19 (Foto: Andhika Prasetia)
Jakarta -

Virus Corona COVID-19 varian Omicron B.1.1.529 terdeteksi sudah masuk Singapura, dua kasus masuk dari Singapura. Mungkin nggak sih, diam-diam sudah ada juga di Indonesia?

Mengingat sekuens genome virus Corona di Indonesia masih relatif lemah, para pakar meyakini hal itu mungkin saja terjadi. Diam-diam varian Omicron sudah ada, tapi tidak terdeteksi.

Salah seorang pakar yang meyakini hal itu adalah Dicky Budiman, ahli epidemiologi dari Griffith University Australia. Menurutkua, genomic surveilance di Indonesia masih di bawah 1 persen.

"Kemungkinan bahwa varian ini sudah ada atau terdeteksi setidaknya 1, 2, 3 (kasus) itu ya tentu ada, karena pertama kalau bicara ketika varian ditemukan iya bukan berarti pada hari itu dia benar-benar baru muncul, kan nggak seperti itu," kata Dicky.

Hal lain yang menguatkan dugaan tersebut adalah aturan karantina yang longgar, dan bahkan sempat semakin dilonggarkan. Meski saat ini kembali diperpanjang, aturan wajib karantina sepulang dari luar negeri sempat diperpendek.

Sementara itu, juru bicara RS Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo dr Tonang Dwi Ardyanto meyakini belum ada laporan tidak berarti bebas varian Omicron. Karenanya, ia mengingatkan untuk waspada.

"Yang belum melaporkan, bukan berarti bebas dari kasus Omicron. Bisa saja karena belum berhasil mendeteksi. Seperti Arab Saudi, Amerika Serikat, Australia itu berhasil mendeteksi," kata Tonang saat dihubungi detikcom, Kamis (2/12/2021).

Sementara itu, ahli paru uang juga mantan petinggi organisasi kesehatan dunia WHO Prof Tjandra Yoga Aditama menjelaskan tanda-tanda yang perlu diwaspadai jika varian Omicron benar sudah masuk Indonesia. Tanda tersebut teramati dari hasil tes PCR (polymerase chain reaction).

"Mutasi spike protein di posisi 69-70 pada Omicron menyebabkan terjadinya fenomena 'S gene target failure (SGTF)' di mana gen S tidak akan terdeteksi dengan PCR lagi, hal ini disebut juga drop out gen S," jelas Prof Tjandra.

"Tidak terdeteksinya gen S pada pemeriksaan PCR dapat dijadikan indikasi awal untuk kemungkinan yang diperiksa adalah varian Omicron, yang tentu perlu dilanjutkan dengan pemeriksaan whole genome sequencing untuk memastikannya," lanjutnya.



Simak Video "Varian Omicron 5 Kali Lipat Lebih Cepat Menular Dibanding Delta"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)